MAKALAH ASKEB IV
“Gangguan Pada Masa Klimakterium dan
Menopause
Oleh :
NAMA : RISYA
SEPTIANI
NIM : 1205154010369
KELAS : III.A
Dosen Pembimbing:
Diana Putri, S. Keb Bd
PRODI
DIII
KEBIDANAN
STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
masa perkembangan anatomi dan fisiologi wanita normal
melalui enam tahapan yaitu masa puberitas, masa reproduksi, masa klimakterium
damonoupouse serta masa senile. Masa reproduksi merupakan masa terpenting dalam
kehidupan wanita yang berlangsung kira-kira tahun. Haid pada masa ini paling
teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa
reproduksi ini disebut dengan masa klimakterium yang merupakan masa peralihan
dari masa reproduksi ke masa senium . masa ini berlangsung beberapa tahun
sebelum dan sesudah monopouse.
Kehidupan manusia dimulai sejak konsepsi hingga
mennjelang akhir hayat dan ini merupakan proses yang berkesinambungan serta
tiada terbatas. Begitupun kehidupan seorang perempuan. Segera setelah di
lahirkan, secara fisiologis menjadi lebih tua. Dengan bertambahnya usia maka
jaringan – jaringan dan sel – sel tua, sebagian mengalami regenerasi, tetapi
sebagian lagi akan mati. Dilihat dari sudut pandang tersebut, maka psikologi
perkembangan juga dapat disebut sebagai psikologi orang menjadi tua. Bagi
sebagian orang, wanita menganggap masa menopause merupakan masa yang
menakutkan, tetapi sebagian lainnya dapat melalui masa ini dengan mulus. Bagi
orang yang merasa masa ini menakutkan akan membutuhkan pendamping yang mengerti
dan paham tentang kondisi dan permasalahan mereka.
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1.2.1
pengertian dari monoupouse dan klimakterium
1.2.2
gangguan pada masa monoupouse dan klimakterium
1.2.3
penatalaksanaan gangguaan monoupouse dan klimakterium
1.2.4
Gangguan pada masa senium
1.2.5
peningkatan kualitas hidup sesudah masa reproduksi
1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan umum
Agar mahasiswa mengetahui
dan memahami apa saja
gangguan klimakterium dan momopouse dan mampu membuat manajemen kebidanan
klimakterium
1.3.2 Tujuan khusus
a. Mahasiswa dapat mempelajari apa itu masa monoupouse dan klimakterium
b. Mahasiswa dapat mempelajari apa saja gangguan pada masa monopouse dan klimakterium
c. Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian
sampai pelaksanaan asuhan kebidanan pada masa monopouse.
BAB
II
TINJAUAN TEORITIS
2.1
Pengertian dari Fase klimakterium dan monopouse
Masa reproduksi merupakan masa terpenting dalam
kehidupan wanita yang berlangsung kira-kira tahun. Haid pada masa ini paling
teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa
reproduksi ini disebut dengan masa klimakterium yang merupakan masa peralihan
dari masa reproduksi ke masa senium . masa ini berlangsung beberapa tahun
sebelum dan sesudah monopouse.
Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir
tahap reroduksi dan berakhir pada awal senium dan terjadi pada
wanita berumr 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan
endrokinologis (prawirohardjo.2001)
Klimakterium dimulai dari
akhir fase reroduksi sampai awal fase senium. Masa ini adalah suatu jangka waktu dimana wanita menyesuaikan diri dengan
menurunnya produksi hormon-hormon oleh indung telur. Masa klimakterium meliputi
masa premenopause, menopause, pasca menopause dan ooforopause. Periode ini
berlangsung beberapa tahun, kadang-kadang sampai lebih dari 10 tahun, antara
usia 40 sampai 65 tahun.
Premenopause adalah masa 4 sampai
5 tahun sebelum menopause yang ditandai dengan adanya keluhan klimakterium dan perdarahan yang tidak teratur.
Menopause artinya berhenti haid,
terjadi dalam masa klimakterium pada usia sekitar 50 tahun.
Pascamenopause adalah masa 3 – 5
tahun setelah menopause
Ooforopause adalah saat
ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya.
Menopause berasal dari kata menopause, men = bulan;
pause = pausa ; pause = pauoo = periode atau tanda berhenti. Jadi
menopause adalah berhentinya secara definitif menstruasi atau berhentinya
menstruasi jika ovarium tidak lagi dihasilkan estrogen, yaitu hormon yang
membuat wanita benar – benar murni wanita. Untuk mengatasi gangguan
emosional yang timbul pada saat seorang wanita memasuki masa menopausenya
ataupun untuk bisa mengantisipasi agar bisa menghindari munculnya gangguan
emosional, setiap wanita perlu memahami semua sindrom menopause yang terjadi
pada dirinya.
2.2 Gejala- gejala klimakterium
Gejala-gejala yang dialalami wanita menoupouse adalah
akibat dari kadar esterogen yang rendah. Dua gejala yang benar-benar
menggambarkan gejala menoupouse adalah muka merah (hot flushes) dan gejala
vagina seperti rasa terbakar, kering dan dispareunia.
2.2.1 muka
merah (hot flushes)
Pada waktu serangan muka merah, wanita mengalami
perasaan panas yang terpusat pada wajah, yang menyebar keleher dan dada dan
mungkin keseluruh tubuh. Flushing ini disertaidengan vasodilatasi perifer dan
kenaikan suhu tubuh sebesar 3 derajat selsius.
Penyebab muka merah tidak diketahui. Muka merah
berlangsung 1-3 menit disertai keringat muka merah dapat terjadi beberapa kali
siang dan malam jika terjadi pada malam hari ketika sedang tidur, keringat
cendrung banyak dan cendrung terganggu. Kesokan harinya ia merasa lelah muka
merah mungkin mlai beberapa bulan sebelum menoupuse, tetapi lebih buruk setelah
itu, dan mencapai puncak insiden 1-2 tahun setelah menoupouse. Kira kira
sepertiga wanita klimakterium tidak mengalami gejala atau mengalami gajala
ringan saja sepertiga mengalami gejala sedang tetapi biasanya tidak mencari pengobatan. Dan
sepertiga lainnya mengalami gejala berat. Muka merah dapat menetap beberapa tahun
setelah menopouse.
2.2.2 gejala
vagina
Gejala-gejala vagina yang disebabkan kehilangan
esterogen cendrung terjadi terutama pada klimakterium. Biasanya pasien mengeluh
vagina kering dan terasa seperti terbakar. Tetapi beberapa wanita mengalami
dispareunia berat yang dapat mempengaruhi hubungan dengan pasangannya. Wanita
yang berhubungan seksual secara teratur lebih kecil kemungkinan mengalami
dispareunia.
2.2.3
gejala-gejala lain
Gejala lain yang disebabkan oleh menoupouse hannya
sedikit. Beberapa wanita menoupouse kehilangan minat terhadap sex tetapi hal
ini mungkin lebih disebabkan oleh hubungan mereka yag buruk sekalipun ada juga
defisiensi hormon. Berlawanan dengan kepercayaan umum, depresi tidak lebih
sering terjadi pada masa monoupouse ketimbang masa-masa lain. Ketika seorang
wanita menjadi lebih tua kulit nya menjadi kurang elastis, terutama karena
kerusakan terhadap cahaya, berkurangnya estrogen pada masa pasca menoupouse
menyebabkan keriputan dan kekeringan menjadi lebih nyata namun sampai derajat
tertentu gangguan memberikan respon terhadap terapi hormonal.
2.3 Gangguan pada masa Klimakterium
Klimakterium
dan menoupouse merupakan hal-hal yang khas bagi manusia. Pada mamalia yang
rendah, fertilitas berlangsung terus sampai usia tua jadi, tidak ada
klimakterium dan menoupouse. Pada manusia pun klimakterium dan monoupouse baru
menjadi soal jika usianya cukup panjang. Secara endrokrinologis, klimakterik di
tandai oeh turunnya kadar esterogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin.
Menurunnya kadar esterogen mengakibatkan gangguan keseimbangan hormonal yang
dapat berupa gangguan siklus haid, gangguan neurofegetatif, gangguan psikis,
gangguan somatik, dan metabolik. Beratnya ganggua tersebut pada setiap
perempuan berbeda beda tergantung pada hal berikut :
1. penurunan
aktivitas ovarium yang mengurangi jumlah hormon steroid seks ovarium keadaan
ini menimbulkan gejala-gejala klimakteri dini (gejolak panas, keringatbanyak,
dan vaginitis atrofikans) dan gejala-gejala lanjut akibat perubahan metabolik
yang berpengaruh pada organ sasaran (osteoporosis)
2. sosial
budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari keluhan
klimakterik.
3. Psikologik
yang mendasari kepribadian perempuan klimakterik itu, juga akan memberikan
penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik.
2.3.1
perdarahan dalam klimakterium/perimenoupause
Siklus yang teratur terjadi akibat keseimbangan hormon
yang tepat disertai ovulasi yang regular. Pada peri menoupouse, tejadi
perubahan level hormon, yang mempengaruhi ovulasi jika ovulasi tidak terjadi,
ovarium akan terus memproduksi esterogen, dengan akibat penebalan endometrium.
Hal ini akan menyebabkan perdarahan irreguler ataupun spotin. Esterogen tampa
pengaruh progesteron ini akan memberi gambaran hiperplasia glandularis sistika.
Diagnosis perdarahan karena gangguan fungsi ovarium
dalam klimakterium tidak boleh dibuat sebelum sebab-sebab organik lain (mioma,
polip, karsinoma) disingkirkan seringkali pemeriksaan penunjang, seperti USG
dan dilatasi kuretase, diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan patologis.
Perhatian khusus perlu diberikan padakeadaan-keadaan
tertentu seperti :
1. perdarahan
yang memerlukan penggantian pembalut tiap jam, selama24 jam.
2. Perdarahan
yang berkepanjangan ( lebih dari 2 minggu).
3. Perdarahan
yang terjadi setelah henti perdarahan selama 6 bulan (kecuali pada pengguna
terapi hormon).
4. Perempuan
obese, menderita DM dan /atau hipertensi, karena beresiko tinggi terjadinya
kangker endometrium.
Perempuan dengan kelainan siklus pada saat
klimakterium yang berupa oligomenorhea atau hipomenorhea tidak diperlukan
terap. Sebaliknya perdarah berlebih perlu mendapatkan perhatian sepenuhnya.
Dengan kerokan perlu dipastikan bahwa perdarahan tidak berdasarkan kelainan
organik.
2.3.2
gangguan neurovegetatif dan gangguan psikis.
Gangguan psikis pada masa sebelum menoupouse menonjol
pada tahun pertama dan berakhir selama 5 tahun. Gejala berupa nervouse,
kecemasan, irritable, depresi, dan insomia. Penyebab gangguan psikis ini belum
diketahui secara pasti, diperkirakan karena rendahnya kadar esterogen, setelah
diketahui, bahwa steroidsek sangat berperan karena rebdahnya kadar esterogen.
Telahdiketahui, bahwa steroid sex sangat berperan terhadap fungsi susunan saraf pusat, terutama terhadap
perilaku, suasana hati, serta fungsi kognitifdan sensorik seseorang. Dengan
demikian, tidak heran jika terjadi penurunan sekresi steroid sex, timbul
perubahan psikis yang berat dan perubahan fungsi kognitif.
Penurunan libido sangat dipengaruhi oleh banyak faktor
seperti perasaan, lingkungan, faktor hormonal. Faktor kejiwaan dan sosio
kultural juga berperan dalam hal menimbulkan gangguan kejiwaan ini merasa
kehilangan rasa feminim suami yang mulai lebih mencintai kerja, anak-anak yang
mulai meninggalkan rumah(empty nest syndrome) dan merasa hidup sudah akan
berakhir.
2.3.3 penanggulangan
Keluhan ringan diatasi dengan konseling yang baik.
Sebaiknya pada keluhan yang cukup berat, terapi hormonal mungkin dibutuhkan
terhadap “hot flushes”, semburan panas dan banyak berkeringat. Tujuanterapi
hormonal ialah mengurangi keluhan sesegera mungkin dengan dosis sekecil
mungkin, dengan masa pengobatan sesingkat mungkin. Sikap ini diambil karena
adanya kecemasan terhadap kemungkina bahwa esterogen dapat menyebabkan atau
mempercepat timbulnya karsinoma jika diberikan dalam jangka panjang. Disamping
itu pemberian esterogen dosis tinggi dan terlalu lama dapat mengakibatkan
perdarahan, sehingga muncul kesulitan untuk menentukan arah perdarahan
disebabkan pengaruh hormon atau karena timbulnya karsinoma. Pengaruhesterogen terhadap
penyakit tromboemboli perlu juga mendapat perhatian .
Esterogen dapat diberikan dalam bentuk diestil
stilbestrol, etinilestrdiol, estradiol,valeriat, estriol(ovestin), atau
estrogen konjugasi (conjugated estrogen). Esterogen konjugasi dapat diberikan
dalam dosis yang cukup tinggi tampa menimbulkan perdarahan endometrium karena
tidak menyebabkan proliferasi endometrium.
Pemberian esterogen selama 3 minggu, kemudian
dihentikan untuk 1 minggu, dan selanjutnya cara ini diulangi, sampai terapi
tidak dibutuhkan lagi. Namun, beberapa penulis menganjurkan untuk memberikan
esterogen dengan kombinasi dengan progestron secara bersamaan atau
berturut-turut atas pertimbangan bahwa efek hiperplastik esterogen terhadap
endometrium dicegah dengan pemberian progesteron. Dengan demikian, kemungkinan
perdarahan yang tidak teratur dapat dikurangi.
2.4 Gangguan
Pada Masa Monoupouse dan senium
Diagnosis monoupouse dapat ditegakkan baik dengan cara
sederhana maupun dengan cara yang canggih perempuan monoupuse ada yang mengalami
gejala dan juga yang tidak. Bila pasien lebih 1 thaun masuki monoupouse
pemeriksaan hormon menjadi tidak mutlak. Diagnosis dapat tegak bila ditemukan
usia 48-49 tahun, haid mulai tak teratur darah haid mulai sedit, haid berenti
sama sekali timbul keluhan klimakterik atau tanda keluhan klimakterik, atau
tampa keluhan klimakterik.
Diagnosis pastiditegakkan bila usia >40 tahun ,
tidak haid >6 bulan, dengan atau tampa keluhan klimakterik, kadar FSH
>40mIU/ml, E2 <30 pg/ml.
Usia kurang dari 40 tahun dengan kriteria diatas
disebut menoupouse prekok dan bila seorang perempuan mendapat haid diatas usia
52 tahun disebut menoupouse terlambat.
a. menoupose
dini
Menoupouse prematur yaitu menoupouse yang terjadi
sebelum berumur 40 tahun. Diagnosis
menoupouse rematur tidak sukar dibuat apabila penghentian haid sebelum
waktunya disertai dengan hot flushes serta peningkatan hormon gonadothropin.
Apabila kedua gejala terakhir ini tidak ada, perlu dilakukan penyelidikan
terhadap sebab-sebab lain dari terganggunya fungsi ovarium .
Faktor yang menyebabkan monoupouse prematur ialah:
herediter, gangguan gizi yang berat, penyakit-penyakit menahun, dan penyakit
yang menganggu atau merusak jaringan ovarium.
b. menopause terlambat
Batas terjadinya menopouse adalah 52 tahun, apabila
seorang wanita masih mendapat haid di usia diatas umur 52 tahun maka itu
indikasi yang diperlukan untuk penyelidikan lebih lanjut. Sebab-sebab yang
dapat dihubungkan dengan monoupouse terlambat adalah :konstitusional,
fibromioma uteri, dan tumor ovarium yang menghasilkan esterogen.
2.4.1
Masalah defisiensi Hormonal
Masalah defisiensi hormonal pada usia monoupouse
diakibatkan oleh menurunnya produksi hormon esterogen ovarium karena jumlah
foikel yang aktif sampai menghilangnya produksi esterogen ovarium akibat sudah
tidak ada sama sekali folikel yang masih aktif di ovarium.
2.4.2 gejala
perubahan pola haid
Perubahan pola
haid sering terjadi pada masa perimonoupose . pada saat ini sensitivitas
ovarium terhadap gonsdotropin berkurang sehingga ovulasi mulai tidak teratur.
Esterogen akan lebih dominan, ditambah lagi oleh pembentukan aromatisasi
ekstraglanduler, menyebabkan endometrium menerima ransangan esterogen yang
berkepanjangan, sehingga terjadi proliferasi yang berlebihan dari kelenjer
endometrium (hiperplasia)yang dapat berkembang menjadi karsinoma endometrium.
2.4.3 Gejala
gangguan Vasomotor
Gejala ini di sebut hot flushes yang terjadi beberapa
bulan atau beberapa tahun setelah berhentinya haid. Secara subjektif perempuan
akan merasakan seperti adanya semburan rasa panas yang bermula pada wajah,
leher dan dada berlangsung 1-2 menit diringi sakit kepala, pusing, dan mual.
Pada serangan hot flushes nadi akan meningkat 13%
tampa disertai peningkatan tekanan darah, suhu tubuh meningkat 0,70 c.
2.4.4 Gejala
Kelainan Metabolik
1. Kelainan
metabolisme lemak dan penyakit jantung koroner
Pada
monoupousekadar esterogen berkurang sehingga produksi HDL berkurang dan LDL ,
kolesterol meningkat. HDL bersifat kardioprotektif, sedangkan LDL dan
kolesterol mengakibatkan kekakuan pembuluh darah sehingga resiko penyakit
jantung koroner meningkat,
2. Kelaianan
metabolisme mineral dan osteoporosis
Proses
osteoporosis pada dasarnya akibat kegagalan aktivitas osteoblas, peningkatan
absorbsi kalsium dan ketikseimbangan kalsium berkepanjangan. Diperkirakan ada
reseptor esterogen pada osteoblas dimana dengan pemberian esterogen pada
osteoblas akan merangsang osteoblas dalam pembentukan tulang baru terutama
medula. Esterogen juga menekan aktivitas osteoklas untuk mengabsorbsi kalsium
pada tulang.
Progesteron
dimana bersifat membangun tulang dengan merangsang osteoklas untuk menyimpan
massa tulang.
3. Gejala Atrofi Urogenital
Berkurangnya
esterogen mengakibatkan perubahan pada jaringan kolagen, epitel, yang
menyebabkan cairan ekstraseluler berkurang.
Berkurangnya
kolagen dan hialurudinase pada kulit akan menyebabkan berkurangnya aliran darah
pada kulit sehingga produksi sebum dari kelenjer akan berkurang maka,
penampakan kulit pada menoupouse akan kasar dan keriput
Dampak yang
ditimbulkan pada traktus genetalis akibat kekurangan esterogen antara lain
vaginitis, senili, kering pada vagina, keputihan, perasaan perih dan terbakar
pada vulva perasaan panas dan perih saat miksi
.
2.5 Gangguan
Pada Masa Senium
Masa pasca
monoupouse akan mengarah ke masa senium. Gejala gejala vasomotor seperti hot
flueshes dan keringat banayk lambat laun mulai menghilang.
2.5.1 Osteoporosis
Osteoporosis terutama terjadi pada tulang belakang dan
daerah dada sehingga dapat ditandai oleh berkurangnya tinggi badan dan kifosis.
Akibat menurunnya densitas mineral tulang, osteoporosis merupakan faktor resiko
terjadinya fraktur, terutama di pergelanngan tangan, vertebra, dan daerah
femor. Gejala nyeri tulangpasca menopouse harus dipikirkan, karena mungkin akibat
osteoporosis
2.5.2 Atrofi
Mukosa Vagina
Kekurangan esterogen sebabkan atrofi epitel vagina,
sehingga menjadi kurang elastis, kering, rugae menghilang, warna pucat, tipis,
sehingga resiko infeksi vagina meningkat. Selain itu, terjadi prolapsus,
inkontinensia urin, dan nokturia.
2.5.3
Sistitis dan uretritis
Jika timbul sistitis dan uretritis akibat atrofi, maka
gejal-gejalanya adalah rasa ingin berkemih dan nyeri ketika berkemih tampa
adanya piuria. Uretritisbisa menyebabkan kerunkula uretra
Tetapi dengan pemberian esterogen; jika ada karunkula
uretra, terapi lokal bermamfaat
2.6
Peningkatan Kualitas Hidup sesudah masa Reproduksi
Harapan hidup perempuan indonesia sekitar 67 tahun,
yakni 20 tahunsetelah masa reproduksi, dengan dihadapkan pada pola penyakit
yang khas klimakterium dan senium, seperti osteoporosis, kangker alat
reproduksi, penyakit jantung, dan kardiovaskular, dan infeksi saluran kemih.
Jumlah penduduk yang berusia diatas 60 tahun di
perkirakan 8 % perempuan lebih banyak dari lelaki, maka dari itu selai
memperhatikan kesehatan reproduksi, perlu pula mengella pasca reproduksi. Dalam menunjang kesehatan pasca reproduksi,
tetap di perlukan evaluasi kesehatan secara berkala.
Pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan pada usia
46-65 tahun meliputi anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik, yang difokuskan
pada daerah yang mengalami transisi saat menoupouse seperti sistem
neuroendokrin dan traktus genitouria. Gejala yang timbul adalah seperti
semburan panas, gangguan tidur, mood dan memory perubahan kulit dan rambut,
inkontinensia urin, disparenia, dan fungsi seksual.
Pemeriksaan fisik: indeks masa tubuh perbandingan
lingkar pinggang dan pinggul, tekanan darah pemeriksaa kulit, gondok, buah
dada, dan sistem kardiovaskular.
Pemeriksaan pelvis kekuatan otot dasar panggul, hormon
FSH, darah lengkap gula darah, profilipid, pap smear, densitas tulang.
Setelah dilakukan penilaian ditentukan kebutuhan
pemeriksaan secara berkala serta kebutuhan terapi, seperti :
a. Terapi
sulih Hormon
Pemberian
hormon esterogen dalam klimakterium dapat mengobati gejala neurovegetatif,
mencegah osteoporosis dan fraktur, memperbaiki kelenturan kulit dan
memperlambat atrofi jaringan kandungan dan urethra.
Peningkatan
kejadian penyakit jantung sesudah menopouse mdihubungkan dengan penurunan esterogen.
Oleh karena itu, diduga bahwa pemberian estrogen dapat mengurangi kejadian
penyakit jantung. Berlainan dengan dulu, rupanya estrogen perlu diberikan
dengan jangka panjang.
b.
alternatif
telah
dikembangkan beberapa macam obat untuk mencegah kehilangan masa tulang seperti
tibolone, alendronate, resitronate,vitoestrogen.
Bagi yang
menolak untuk menggunakan HRT oleh berbagai alasan, tersedia berbagai
alternatif tersebut
Tibolone
adalah : steroid sintetik yang kerjanya menyembuhkan semburan panas,
memperbaiki atrofi vagina, mencegah kehilangan masa tulang, dengan efektifitas
hampir sama dengan HRT tapi tidak menyebabkan proliferasi endometrium.
Selain
steroid sintetis tersebut, penggunaan vitoestrogen menurunkan keluhan
klimakterik sampai 30 %, meningkatkan masa tulang samoai dengan 60%
dibandingkan terapi esterogen.
Upaya
peningkatan kualitas hidup pada usia tua dapat terwujud dengan pemeriksaan rutin
secara teratur (6 bulan sekali). Perlu pengaturan diet dan olah raga teratur
secukupnya.
Sudah
saatnya mengalahkan penggunaan klinik klimakterium yang didukung berbagai
tenaga spesialis, ginekologi, endokrinologi, penyakit dalam, kardiologi,
ortopedi, psikologi, sikiater ahli gizi.
Sanagat
diharapkan dukungan masyarakat dan pemerintah untuk kebutuha perempuan lanjut usia secara medis dan
sosial.
2.7 Adapun beberapa cara untuk mengatasi gangguan
psikologi pada masa menopause adalah sebagai berikut :
a.
Terapi Sulih Hormon ( TSH )
Pengaruh
obat hormon dalam terapi sulih hormon ( TSH ) bagi wanita menopause hingga saat
ini mengandung pro dan kontra. Sementara penelitian tentang TSH masih terus
dilakukan.
b.
Pola Hidup Sehat
Upaya
menciptakan pola hidup sehat terutam di lakukan dengan mengatur menu makanan
dan pola makan seimbang. Banyak menu makan sayuran hijau, buah biji – bijian ,
vitamin dan serat makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolisme tubuh.
Selain itu juga, makanan yang dianjurkan adalah makanan yang rendah lemak
jenuh, rendah kolesterol, kadar gula dan garam yang tidak berlebihan, cukup
kalsium dan zat besi, serta cukup vitamin dan serat.
c.
Olahraga
Merupakan
kegiatan yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran. Olahraga yang
teratus akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan
tubuh, dan memperbaiki suasana hati.
d.
Menerima dengan lapang dada bahwa proses penuaan tidak
dapat dihindari dan masa menopause adalah sesuatu hal yang sangat alamiah yang
dialami oleh setiap wanita.
e.
Hadapi masalah yang ada satu persatu,jangan sekaligus,
berdasarkan prioritasnya.
f.
Untuk sementara masalah Menopause yang menimbulkan
perasaan khawatir itu dihilangkan dan memusatkan pikiran pada sesuatu hal yang
sangat berbeda dan menyenangkan.
g.
Menulis memo untuk diri sendiri untuk mengeluarkan
semua unek-unek mengenai situasi perubahan fisik dan psikologik yang
menimbulkan kekhawatiran, sikap-sikap orang dilingkungan anda dsb. Anda akan
merasa lebih enak dan dapat berpikir lebih rasional setelah emosi-emosi negatif
yang mendasari kekhawatiran bisa terekspresikan dalam memo itu.
h.
Menyesuaikan sikap. Tanyalah pada diri sendiri, hikmah
positif apa yang dapat dipelajari saat masa menopause harus dihadapi . Letakkan
stressor tersebut dalam perspektif yang benar, jangan biarkan pikiran-pikiran
negatif menguasai diri dan hindari sikap pesimis.
i.
Merubah lingkungan agar tidak lagi berada dalam
keadaan yang monoton.
j.
Mencoba untuk memperbaiki penampilan agar lebih
segar dan tampil cantik.
k.
Mempergunakan setiap waktu luang yang ada dengan
melakukan banyak kegiatan yang positif dan kreatif. Dengan mengembangkan minat
baru dan mempelajari keahlian yang baru akan memberikan perasaan senang bahwa
ia bisa berprestasi.
l.
Masuk kegiatan politik atau aktif di kegiatan sosial,
serta dapat memiliki atau menciptakan pekerjaan yang menarik, atau mempunyai
pekerjaan dengan penghasilan yang tetap, akan dapat membuat seseorang merasa
dirinya berguna bagi orang lain dan meningkatkan penghargaan terhadap diri
sendiri.
m.
Pelajarilah dan berlatihlah secara teratur tehnik
relaksasi yang tepat, tehnik-tehnik meditasi, yoga dll.
n.
Untuk mengatasi masalah pribadi dan lingkungan
psikososialnya, perlu konsultasi dengan psikolog atau konsultasi ke dokter
sesuai dengan keluhan yang dialaminya.
:2.8
manajemen kebidanan pada masa klimakterium
Bagaimana bidan menghadapi masalah
klimakterium ditengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25%
wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan
hormon sebagai substitusi.
Pemberian substitusi hormon tampa diikuti pengawasan
ketat adalah berbahaya karena bidan dapat mengambil langkah:
a. Melakukan
KIEM sehingga wanita dengan keluhan menopousedapat memeriksakan dapat
memberikan diri ke dokter puskesmas.
b. bidan
berkonsultasi dengan dokter puskesmas atau dokter ahli.
c. setelah
pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan.
d. bidan dapat
merujuk penderia kerumah sakit.
Gangguan-gangguan endokrin : kelenjer endokrin
dikeluarkan oleh seluruh tubuh dan bertanggung jawab untuk mengontrol fungsi internal
tubuh dan reproduksi banyak hormon, penyakit dan rasa sakit, yang berefek
seperti glans yaitu pituitari, hipotalamus, tiroid dan adrenal mempunyai dampak
yang signifikan pada seksual wanita.
BAB III
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE
AUSHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE
PADA NY.R USIA 45 TAHUN DI BPS R BUKITTINGGI
Datang ke BPS :
tanggal 02 agustus 2014
Tempat : BPS R
Waktu : 10.00
I.
PENGKAJIAN
A.
DATA
SUBJEKTIF
1.
Identitas
Nama : Ny.
A
Umur : 41 tahun
Alamat : kubang
putiah kecamatan Banuhampu,kabupaten Agam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
(tidak bekerja)
a.
Alasan
datang : ingin melakukan
pemeriksaan
b.
Keluhan
: ibu mengatakan ibu mengeluh haidnya
tidak datang selama 3 bulan berturut-turut dan kalau haid darahnya banyak
sampai lebih dari 15 hari.
ibu berkeringat banyak setiap harinya, dan merasa ada
semburan rasa panas pada wajah, leher hingga dada sejak 1 tahun belakangan ini.
B.
DATA
OBJEKTIF
1.
Pemeriksaan
umum
a.
keadaan
umum
kesadaran : compos mentis
keadaan emosional :
baik
b.
tanda-
tanda vital
tekanan darah : 130/80 mmhg
nadi : 83x/i
RR :
23X/i
Suhu :
36,70 c
2.
pemeriksaan
fisik
konjungtiva :tidak
pucat
sklera :
tidak ikterik
payudara :
tidak ada benjolan
kulit :
cendrung kering dan keriput
II.
INTERPRESTASI
DATA
A. Diagnosa Kebidanan
Ibu
dengan
gangguan pada masa klimakterium
Data
dasar
a.
Ibu
mengatakan umurnya 41
tahun
b. Ibu mengatakan ibu mengeluh haidnya
tidak datang selama 3 bulan berturut-turut dan kalau haid darahnya banyak
sampai lebih dari 15 hari.
c. ibu berkeringat banyak
setiap harinya, dan merasa ada semburan rasa panas pada wajah, leher hingga
dada sejak 1 tahun belakangan ini.
d.
tanda-
tanda vital
tekanan darah : 130/80 mmhg
nadi :
83x/i
RR :
23X/i
Suhu :
36,70 c
Kebutuhan
1. Informasi
2. Dukungan psikologis
3. Peningkatan kualitas
hidup
4. Kolaborasi
5.
Kunjungan
ulang
III. IDENTIFIKASI
DAN ANTISIPASI DIAGNOSA POTENSIAL
Penyakit jantung koroner
osteoporosis
IV. TINDAKAN
SEGERA
Melakukan kolaborasi dan rujukan dengan rumah sakit yang
memiliki spesialis endokrinologi, ginekologi, dll. Untuk dilakukannya TSH pada
ibu untuk mengurangi gejala yang ada.
V. PERENCANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan
2. Menjelaskan pada ibu agar meningkatkan kualitas hidupnya
3. Berkolaborasi atau ruukan dengan rumah sakit
4. Menjadwalkan kunjungan ulang
VI. PELAKSANAAN
1. Menginformasikan pada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa
ibu sekarang memasuki masa klimakterium yaitu Klimakterium
merupakan masa yang bermula dari akhir tahap reroduksi dan
berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita berumr 40-65 tahun.
Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endrokinologis
Masa ini adalah suatu jangka waktu dimana wanita menyesuaikan diri dengan
menurunnya produksi hormon-hormon oleh indung telur.
Menjelaskan
kepada ibu bahwa keluhan yang dilami ibu sekarang adalah keadaan yang normal
pada setiap wanita yang sudah berumur diatas 40 tahun keatas, untuk mengurangi
gejala yang ibu alami ibu harus mendapatkan teraphy hormonal sehingga dengan
terapi hormon dapat mengurangi keluhan yang ada.
2. menganjurkan ibu
untuk meningkatkan kualitas hidupnya pada usia klimakterium dengan pemeriksan
rutin secara teratur (misalnya 6bulan sekali). Perlu pengaturan diet dan olah
raga teratur setiap harinya.
Olahraga
Merupakan
kegiatan yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran. Olahraga yang teratus
akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh,
dan memperbaiki suasana hati.
Banyak menu
makan sayuran hijau, buah biji – bijian , vitamin dan serat makanan itu akan
membantu pencernaan dan metabolisme tubuh. Selain itu juga, makanan yang
dianjurkan adalah makanan yang rendah lemak jenuh, rendah kolesterol, kadar
gula dan garam yang tidak berlebihan, cukup kalsium dan zat besi, serta cukup
vitamin dan serat.
3. Melakukan Rujukan ke rumah sakit sesuai
dengan persetujuan ibu untuk dilakukannya TSH pada ibu sehingga Keluhan yang di
alami ibu selama 1 tahun terakhir berkurang sesegera mungkin.
4. Menjadwalkan ibu
untuk kunjungan
Ibu di anjurkan untuk
datang ke tenaga kesehatan setiap kali mendapatkan keluhan yang membuat ibu
tidak nyaman sehingga keluhan yang dialami ibu bisa segera di atasi.
VII. EVALUASI
1. Ibu mengerti dan paham dengan informasi yang
diberikan oleh bidan .
2. Ibu bersedia untuk
meningkatkan kualitas hidupnya.
3. Ibu ingin melaksanakan
anjuran bidan untuk dilakukan rujukan kerumah sakit untuk mendapatkan terapi
hormonal sehingga keluhan yang ibu rasakan segera berkurang.
4.
Ibu
bersedia untuk selalu datang ke tenaga kesehatan jika mengalami masalah
selama masa klimakterium.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Masa
reproduksi merupakan masa terpenting dalam kehidupan wanita yang berlangsung
kira-kira tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk
kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa reproduksi ini disebut dengan
masa klimakterium yang merupakan masa peralihan dari masa reproduksi ke masa
senium . masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah monopouse
Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir
tahap reroduksi dan berakhir pada awal senium dan terjadi pada
wanita berumr 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan
endrokinologis (prawirohardjo.2001)
Menopause artinya berhenti haid,
terjadi dalam masa klimakterium pada usia sekitar 50 tahun.
Pascamenopause adalah masa 3 – 5
tahun setelah menopause
Ooforopause adalah saat
ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya.
Klimaterium dan Menopause sebagai bagian dari
proses kehidupan memang tidak dapat dihindari. Menopause dan klimaterim
bukanlah suatu penyakit, namun merupakan tahap yang tidak dapat dihindari pada
kehidupan wanita. Beberapa gangguan yang terjadi pada masa menopause
yaitu: gangguan daya ingat, proses berpikir, gangguan Sensorik dan kognitif,
gangguan kesadaran, gangguan Orientasi, dan gangguan fungsi intelektual.
4.2 Saran
Masa menopause dan klimaterium adalah suatu proses
alamiah yang pasti dialami oleh setiap wanita. Untuk menghadapinya agar tidak
timbul gangguan emosional yang pada dirinya maupun lingkungan, wanita perlu
mengembangkan pikiran yang positif agar dapat mempersiapkan diri dengan menjaga
kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh sejak masih muda, juga memperluas
wawasan pengetahuan tentang masalah menopause.