Sabtu, 20 September 2014

makalah gangguan pada masa Klimakterium dan menopause

MAKALAH ASKEB IV
“Gangguan Pada Masa Klimakterium dan Menopause


http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash3/41795_158436690854229_1321566_n.jpg
Oleh :
NAMA : RISYA SEPTIANI
NIM   : 1205154010369
KELAS : III.A




Dosen Pembimbing:
Diana Putri, S. Keb Bd






PRODI DIII KEBIDANAN
STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2014/2015


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
masa perkembangan anatomi dan fisiologi wanita normal melalui enam tahapan yaitu masa puberitas, masa reproduksi, masa klimakterium damonoupouse serta masa senile. Masa reproduksi merupakan masa terpenting dalam kehidupan wanita yang berlangsung kira-kira tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa reproduksi ini disebut dengan masa klimakterium yang merupakan masa peralihan dari masa reproduksi ke masa senium . masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah monopouse.
Kehidupan manusia dimulai sejak konsepsi hingga mennjelang akhir hayat dan ini merupakan proses yang berkesinambungan serta tiada terbatas. Begitupun kehidupan seorang perempuan. Segera setelah di lahirkan, secara fisiologis menjadi lebih tua. Dengan bertambahnya usia maka jaringan – jaringan dan sel – sel tua, sebagian mengalami regenerasi, tetapi sebagian lagi akan mati. Dilihat dari sudut pandang tersebut, maka psikologi perkembangan juga dapat disebut sebagai psikologi orang menjadi tua. Bagi sebagian orang, wanita menganggap masa menopause merupakan masa yang menakutkan, tetapi sebagian lainnya dapat melalui masa ini dengan mulus. Bagi orang yang merasa masa ini menakutkan akan membutuhkan pendamping yang mengerti dan paham tentang kondisi dan permasalahan mereka.


1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 pengertian dari monoupouse dan klimakterium
1.2.2 gangguan pada masa monoupouse dan klimakterium
1.2.3 penatalaksanaan gangguaan monoupouse dan klimakterium
1.2.4 Gangguan pada masa senium
1.2.5 peningkatan kualitas hidup sesudah masa reproduksi

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan umum
Agar  mahasiswa mengetahui dan memahami apa saja gangguan klimakterium dan momopouse dan mampu membuat manajemen kebidanan klimakterium
1.3.2  Tujuan khusus
a.    Mahasiswa dapat mempelajari apa itu masa monoupouse dan klimakterium
b.    Mahasiswa dapat mempelajari apa saja gangguan pada masa monopouse dan klimakterium
c.    Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian sampai pelaksanaan asuhan kebidanan pada masa monopouse.


















BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1 Pengertian dari Fase klimakterium dan monopouse
Masa reproduksi merupakan masa terpenting dalam kehidupan wanita yang berlangsung kira-kira tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa reproduksi ini disebut dengan masa klimakterium yang merupakan masa peralihan dari masa reproduksi ke masa senium . masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah monopouse.
Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir tahap reroduksi  dan  berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita berumr 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endrokinologis (prawirohardjo.2001)
Klimakterium  dimulai dari akhir fase reroduksi sampai awal fase senium. Masa ini adalah suatu jangka waktu dimana wanita menyesuaikan diri dengan menurunnya produksi hormon-hormon oleh indung telur. Masa klimakterium meliputi masa premenopause, menopause, pasca menopause dan ooforopause. Periode ini berlangsung beberapa tahun, kadang-kadang sampai lebih dari 10 tahun, antara usia 40 sampai 65 tahun.
Premenopause adalah masa 4 sampai 5 tahun sebelum menopause yang ditandai dengan adanya keluhan klimakterium dan perdarahan yang tidak teratur.
Menopause artinya berhenti haid, terjadi dalam masa klimakterium pada usia sekitar 50 tahun.
Pascamenopause adalah masa 3 – 5 tahun setelah menopause
Ooforopause adalah saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya.
Menopause berasal dari kata menopause, men =  bulan; pause = pausa ; pause = pauoo = periode atau tanda berhenti. Jadi menopause adalah berhentinya secara definitif menstruasi atau berhentinya menstruasi jika ovarium tidak lagi dihasilkan estrogen, yaitu hormon yang membuat wanita benar – benar murni wanita.  Untuk mengatasi gangguan emosional yang timbul pada saat seorang wanita memasuki masa menopausenya ataupun untuk bisa mengantisipasi agar bisa menghindari munculnya gangguan emosional, setiap wanita perlu memahami semua sindrom menopause yang terjadi pada dirinya.

2.2 Gejala- gejala klimakterium
Gejala-gejala yang dialalami wanita menoupouse adalah akibat dari kadar esterogen yang rendah. Dua gejala yang benar-benar menggambarkan gejala menoupouse adalah muka merah (hot flushes) dan gejala vagina seperti rasa terbakar, kering dan dispareunia.
2.2.1 muka merah (hot flushes)
Pada waktu serangan muka merah, wanita mengalami perasaan panas yang terpusat pada wajah, yang menyebar keleher dan dada dan mungkin keseluruh tubuh. Flushing ini disertaidengan vasodilatasi perifer dan kenaikan suhu tubuh sebesar 3 derajat selsius.
Penyebab muka merah tidak diketahui. Muka merah berlangsung 1-3 menit disertai keringat muka merah dapat terjadi beberapa kali siang dan malam jika terjadi pada malam hari ketika sedang tidur, keringat cendrung banyak dan cendrung terganggu. Kesokan harinya ia merasa lelah muka merah mungkin mlai beberapa bulan sebelum menoupuse, tetapi lebih buruk setelah itu, dan mencapai puncak insiden 1-2 tahun setelah menoupouse. Kira kira sepertiga wanita klimakterium tidak mengalami gejala atau mengalami gajala ringan saja sepertiga mengalami gejala sedang tetapi  biasanya tidak mencari pengobatan. Dan sepertiga lainnya mengalami gejala berat. Muka merah dapat menetap beberapa tahun setelah menopouse.
2.2.2 gejala vagina
Gejala-gejala vagina yang disebabkan kehilangan esterogen cendrung terjadi terutama pada klimakterium. Biasanya pasien mengeluh vagina kering dan terasa seperti terbakar. Tetapi beberapa wanita mengalami dispareunia berat yang dapat mempengaruhi hubungan dengan pasangannya. Wanita yang berhubungan seksual secara teratur lebih kecil kemungkinan mengalami dispareunia.
2.2.3 gejala-gejala lain
Gejala lain yang disebabkan oleh menoupouse hannya sedikit. Beberapa wanita menoupouse kehilangan minat terhadap sex tetapi hal ini mungkin lebih disebabkan oleh hubungan mereka yag buruk sekalipun ada juga defisiensi hormon. Berlawanan dengan kepercayaan umum, depresi tidak lebih sering terjadi pada masa monoupouse ketimbang masa-masa lain. Ketika seorang wanita menjadi lebih tua kulit nya menjadi kurang elastis, terutama karena kerusakan terhadap cahaya, berkurangnya estrogen pada masa pasca menoupouse menyebabkan keriputan dan kekeringan menjadi lebih nyata namun sampai derajat tertentu gangguan memberikan respon terhadap terapi hormonal.

2.3 Gangguan pada masa Klimakterium
Klimakterium dan menoupouse merupakan hal-hal yang khas bagi manusia. Pada mamalia yang rendah, fertilitas berlangsung terus sampai usia tua jadi, tidak ada klimakterium dan menoupouse. Pada manusia pun klimakterium dan monoupouse baru menjadi soal jika usianya cukup panjang. Secara endrokrinologis, klimakterik di tandai oeh turunnya kadar esterogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Menurunnya kadar esterogen mengakibatkan gangguan keseimbangan hormonal yang dapat berupa gangguan siklus haid, gangguan neurofegetatif, gangguan psikis, gangguan somatik, dan metabolik. Beratnya ganggua tersebut pada setiap perempuan berbeda beda tergantung pada hal berikut :
1.    penurunan aktivitas ovarium yang mengurangi jumlah hormon steroid seks ovarium keadaan ini menimbulkan gejala-gejala klimakteri dini (gejolak panas, keringatbanyak, dan vaginitis atrofikans) dan gejala-gejala lanjut akibat perubahan metabolik yang berpengaruh pada organ sasaran (osteoporosis)
2.    sosial budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari keluhan klimakterik.
3.    Psikologik yang mendasari kepribadian perempuan klimakterik itu, juga akan memberikan penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik.

2.3.1 perdarahan dalam klimakterium/perimenoupause
Siklus yang teratur terjadi akibat keseimbangan hormon yang tepat disertai ovulasi yang regular. Pada peri menoupouse, tejadi perubahan level hormon, yang mempengaruhi ovulasi jika ovulasi tidak terjadi, ovarium akan terus memproduksi esterogen, dengan akibat penebalan endometrium. Hal ini akan menyebabkan perdarahan irreguler ataupun spotin. Esterogen tampa pengaruh progesteron ini akan memberi gambaran hiperplasia glandularis sistika.
Diagnosis perdarahan karena gangguan fungsi ovarium dalam klimakterium tidak boleh dibuat sebelum sebab-sebab organik lain (mioma, polip, karsinoma) disingkirkan seringkali pemeriksaan penunjang, seperti USG dan dilatasi kuretase, diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan patologis.
Perhatian khusus perlu diberikan padakeadaan-keadaan tertentu seperti :
1.    perdarahan yang memerlukan penggantian pembalut tiap jam, selama24 jam.
2.    Perdarahan yang berkepanjangan ( lebih dari 2 minggu).
3.    Perdarahan yang terjadi setelah henti perdarahan selama 6 bulan (kecuali pada pengguna terapi hormon).
4.    Perempuan obese, menderita DM dan /atau hipertensi, karena beresiko tinggi terjadinya kangker endometrium.
Perempuan dengan kelainan siklus pada saat klimakterium yang berupa oligomenorhea atau hipomenorhea tidak diperlukan terap. Sebaliknya perdarah berlebih perlu mendapatkan perhatian sepenuhnya. Dengan kerokan perlu dipastikan bahwa perdarahan tidak berdasarkan kelainan organik.

2.3.2 gangguan neurovegetatif dan gangguan psikis.
Gangguan psikis pada masa sebelum menoupouse menonjol pada tahun pertama dan berakhir selama 5 tahun. Gejala berupa nervouse, kecemasan, irritable, depresi, dan insomia. Penyebab gangguan psikis ini belum diketahui secara pasti, diperkirakan karena rendahnya kadar esterogen, setelah diketahui, bahwa steroidsek sangat berperan karena rebdahnya kadar esterogen. Telahdiketahui, bahwa steroid sex sangat berperan terhadap  fungsi susunan saraf pusat, terutama terhadap perilaku, suasana hati, serta fungsi kognitifdan sensorik seseorang. Dengan demikian, tidak heran jika terjadi penurunan sekresi steroid sex, timbul perubahan psikis yang berat dan perubahan fungsi kognitif.
Penurunan libido sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perasaan, lingkungan, faktor hormonal. Faktor kejiwaan dan sosio kultural juga berperan dalam hal menimbulkan gangguan kejiwaan ini merasa kehilangan rasa feminim suami yang mulai lebih mencintai kerja, anak-anak yang mulai meninggalkan rumah(empty nest syndrome) dan merasa hidup sudah akan berakhir.

2.3.3 penanggulangan
Keluhan ringan diatasi dengan konseling yang baik. Sebaiknya pada keluhan yang cukup berat, terapi hormonal mungkin dibutuhkan terhadap “hot flushes”, semburan panas dan banyak berkeringat. Tujuanterapi hormonal ialah mengurangi keluhan sesegera mungkin dengan dosis sekecil mungkin, dengan masa pengobatan sesingkat mungkin. Sikap ini diambil karena adanya kecemasan terhadap kemungkina bahwa esterogen dapat menyebabkan atau mempercepat timbulnya karsinoma jika diberikan dalam jangka panjang. Disamping itu pemberian esterogen dosis tinggi dan terlalu lama dapat mengakibatkan perdarahan, sehingga muncul kesulitan untuk menentukan arah perdarahan disebabkan pengaruh hormon atau karena timbulnya karsinoma. Pengaruhesterogen terhadap penyakit tromboemboli perlu juga mendapat perhatian .
Esterogen dapat diberikan dalam bentuk diestil stilbestrol, etinilestrdiol, estradiol,valeriat, estriol(ovestin), atau estrogen konjugasi (conjugated estrogen). Esterogen konjugasi dapat diberikan dalam dosis yang cukup tinggi tampa menimbulkan perdarahan endometrium karena tidak menyebabkan proliferasi endometrium.
Pemberian esterogen selama 3 minggu, kemudian dihentikan untuk 1 minggu, dan selanjutnya cara ini diulangi, sampai terapi tidak dibutuhkan lagi. Namun, beberapa penulis menganjurkan untuk memberikan esterogen dengan kombinasi dengan progestron secara bersamaan atau berturut-turut atas pertimbangan bahwa efek hiperplastik esterogen terhadap endometrium dicegah dengan pemberian progesteron. Dengan demikian, kemungkinan perdarahan yang tidak teratur dapat dikurangi.

2.4 Gangguan Pada Masa Monoupouse dan senium
Diagnosis monoupouse dapat ditegakkan baik dengan cara sederhana maupun dengan cara yang canggih perempuan monoupuse ada yang mengalami gejala dan juga yang tidak. Bila pasien lebih 1 thaun masuki monoupouse pemeriksaan hormon menjadi tidak mutlak. Diagnosis dapat tegak bila ditemukan usia 48-49 tahun, haid mulai tak teratur darah haid mulai sedit, haid berenti sama sekali timbul keluhan klimakterik atau tanda keluhan klimakterik, atau tampa keluhan klimakterik.
Diagnosis pastiditegakkan bila usia >40 tahun , tidak haid >6 bulan, dengan atau tampa keluhan klimakterik, kadar FSH >40mIU/ml, E2 <30 pg/ml.
Usia kurang dari 40 tahun dengan kriteria diatas disebut menoupouse prekok dan bila seorang perempuan mendapat haid diatas usia 52 tahun disebut menoupouse terlambat.

a. menoupose dini
Menoupouse prematur yaitu menoupouse yang terjadi sebelum berumur 40 tahun. Diagnosis  menoupouse rematur tidak sukar dibuat apabila penghentian haid sebelum waktunya disertai dengan hot flushes serta peningkatan hormon gonadothropin. Apabila kedua gejala terakhir ini tidak ada, perlu dilakukan penyelidikan terhadap sebab-sebab lain dari terganggunya fungsi ovarium .
Faktor yang menyebabkan monoupouse prematur ialah: herediter, gangguan gizi yang berat, penyakit-penyakit menahun, dan penyakit yang menganggu atau merusak jaringan ovarium.

b. menopause terlambat
Batas terjadinya menopouse adalah 52 tahun, apabila seorang wanita masih mendapat haid di usia diatas umur 52 tahun maka itu indikasi yang diperlukan untuk penyelidikan lebih lanjut. Sebab-sebab yang dapat dihubungkan dengan monoupouse terlambat adalah :konstitusional, fibromioma uteri, dan tumor ovarium yang menghasilkan esterogen.

2.4.1 Masalah defisiensi Hormonal
Masalah defisiensi hormonal pada usia monoupouse diakibatkan oleh menurunnya produksi hormon esterogen ovarium karena jumlah foikel yang aktif sampai menghilangnya produksi esterogen ovarium akibat sudah tidak ada sama sekali folikel yang masih aktif di ovarium.

2.4.2 gejala perubahan pola haid
Perubahan pola haid sering terjadi pada masa perimonoupose . pada saat ini sensitivitas ovarium terhadap gonsdotropin berkurang sehingga ovulasi mulai tidak teratur. Esterogen akan lebih dominan, ditambah lagi oleh pembentukan aromatisasi ekstraglanduler, menyebabkan endometrium menerima ransangan esterogen yang berkepanjangan, sehingga terjadi proliferasi yang berlebihan dari kelenjer endometrium (hiperplasia)yang dapat berkembang menjadi karsinoma endometrium.

2.4.3 Gejala gangguan Vasomotor
Gejala ini di sebut hot flushes yang terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah berhentinya haid. Secara subjektif perempuan akan merasakan seperti adanya semburan rasa panas yang bermula pada wajah, leher dan dada berlangsung 1-2 menit diringi sakit kepala, pusing, dan mual.
Pada serangan hot flushes nadi akan meningkat 13% tampa disertai peningkatan tekanan darah, suhu tubuh meningkat 0,70 c.

2.4.4 Gejala Kelainan Metabolik
1.    Kelainan metabolisme lemak dan penyakit jantung koroner
Pada monoupousekadar esterogen berkurang sehingga produksi HDL berkurang dan LDL , kolesterol meningkat. HDL bersifat kardioprotektif, sedangkan LDL dan kolesterol mengakibatkan kekakuan pembuluh darah sehingga resiko penyakit jantung koroner meningkat,
2.    Kelaianan metabolisme mineral dan osteoporosis
Proses osteoporosis pada dasarnya akibat kegagalan aktivitas osteoblas, peningkatan absorbsi kalsium dan ketikseimbangan kalsium berkepanjangan. Diperkirakan ada reseptor esterogen pada osteoblas dimana dengan pemberian esterogen pada osteoblas akan merangsang osteoblas dalam pembentukan tulang baru terutama medula. Esterogen juga menekan aktivitas osteoklas untuk mengabsorbsi kalsium pada tulang.
Progesteron dimana bersifat membangun tulang dengan merangsang osteoklas untuk menyimpan massa tulang.
3.   Gejala Atrofi Urogenital
Berkurangnya esterogen mengakibatkan perubahan pada jaringan kolagen, epitel, yang menyebabkan cairan ekstraseluler berkurang.
Berkurangnya kolagen dan hialurudinase pada kulit akan menyebabkan berkurangnya aliran darah pada kulit sehingga produksi sebum dari kelenjer akan berkurang maka, penampakan kulit pada menoupouse akan kasar dan keriput
Dampak yang ditimbulkan pada traktus genetalis akibat kekurangan esterogen antara lain vaginitis, senili, kering pada vagina, keputihan, perasaan perih dan terbakar pada vulva perasaan panas dan perih saat miksi  .

2.5 Gangguan Pada Masa Senium
Masa pasca monoupouse akan mengarah ke masa senium. Gejala gejala vasomotor seperti hot flueshes dan keringat banayk lambat laun mulai menghilang.

2.5.1 Osteoporosis
Osteoporosis terutama terjadi pada tulang belakang dan daerah dada sehingga dapat ditandai oleh berkurangnya tinggi badan dan kifosis. Akibat menurunnya densitas mineral tulang, osteoporosis merupakan faktor resiko terjadinya fraktur, terutama di pergelanngan tangan, vertebra, dan daerah femor. Gejala nyeri tulangpasca menopouse harus dipikirkan, karena mungkin akibat osteoporosis
2.5.2 Atrofi Mukosa Vagina
Kekurangan esterogen sebabkan atrofi epitel vagina, sehingga menjadi kurang elastis, kering, rugae menghilang, warna pucat, tipis, sehingga resiko infeksi vagina meningkat. Selain itu, terjadi prolapsus, inkontinensia urin, dan nokturia.
2.5.3 Sistitis dan uretritis
Jika timbul sistitis dan uretritis akibat atrofi, maka gejal-gejalanya adalah rasa ingin berkemih dan nyeri ketika berkemih tampa adanya piuria. Uretritisbisa menyebabkan kerunkula uretra
Tetapi dengan pemberian esterogen; jika ada karunkula uretra, terapi lokal bermamfaat

2.6 Peningkatan Kualitas Hidup sesudah masa Reproduksi
Harapan hidup perempuan indonesia sekitar 67 tahun, yakni 20 tahunsetelah masa reproduksi, dengan dihadapkan pada pola penyakit yang khas klimakterium dan senium, seperti osteoporosis, kangker alat reproduksi, penyakit jantung, dan kardiovaskular, dan infeksi saluran kemih.
Jumlah penduduk yang berusia diatas 60 tahun di perkirakan 8 % perempuan lebih banyak dari lelaki, maka dari itu selai memperhatikan kesehatan reproduksi, perlu pula mengella pasca reproduksi.  Dalam menunjang kesehatan pasca reproduksi, tetap di perlukan evaluasi kesehatan secara berkala.
Pemeriksaan kesehatan yang direkomendasikan pada usia 46-65 tahun meliputi anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik, yang difokuskan pada daerah yang mengalami transisi saat menoupouse seperti sistem neuroendokrin dan traktus genitouria. Gejala yang timbul adalah seperti semburan panas, gangguan tidur, mood dan memory perubahan kulit dan rambut, inkontinensia urin, disparenia, dan fungsi seksual.
Pemeriksaan fisik: indeks masa tubuh perbandingan lingkar pinggang dan pinggul, tekanan darah pemeriksaa kulit, gondok, buah dada, dan sistem kardiovaskular.
Pemeriksaan pelvis kekuatan otot dasar panggul, hormon FSH, darah lengkap gula darah, profilipid, pap smear, densitas tulang.
Setelah dilakukan penilaian ditentukan kebutuhan pemeriksaan secara berkala serta kebutuhan terapi, seperti :
a. Terapi sulih Hormon
Pemberian hormon esterogen dalam klimakterium dapat mengobati gejala neurovegetatif, mencegah osteoporosis dan fraktur, memperbaiki kelenturan kulit dan memperlambat atrofi jaringan kandungan dan urethra.
Peningkatan kejadian penyakit jantung sesudah menopouse mdihubungkan dengan penurunan esterogen. Oleh karena itu, diduga bahwa pemberian estrogen dapat mengurangi kejadian penyakit jantung. Berlainan dengan dulu, rupanya estrogen perlu diberikan dengan jangka panjang.
b. alternatif
telah dikembangkan beberapa macam obat untuk mencegah kehilangan masa tulang seperti tibolone, alendronate, resitronate,vitoestrogen.
Bagi yang menolak untuk menggunakan HRT oleh berbagai alasan, tersedia berbagai alternatif tersebut
Tibolone adalah : steroid sintetik yang kerjanya menyembuhkan semburan panas, memperbaiki atrofi vagina, mencegah kehilangan masa tulang, dengan efektifitas hampir sama dengan HRT tapi tidak menyebabkan proliferasi endometrium.
Selain steroid sintetis tersebut, penggunaan vitoestrogen menurunkan keluhan klimakterik sampai 30 %, meningkatkan masa tulang samoai dengan 60% dibandingkan terapi esterogen.
Upaya peningkatan kualitas hidup pada usia tua dapat terwujud dengan pemeriksaan rutin secara teratur (6 bulan sekali). Perlu pengaturan diet dan olah raga teratur secukupnya.
Sudah saatnya mengalahkan penggunaan klinik klimakterium yang didukung berbagai tenaga spesialis, ginekologi, endokrinologi, penyakit dalam, kardiologi, ortopedi, psikologi, sikiater ahli gizi.
Sanagat diharapkan dukungan masyarakat dan pemerintah untuk kebutuha  perempuan lanjut usia secara medis dan sosial.

2.7 Adapun beberapa cara untuk mengatasi gangguan psikologi pada masa menopause adalah sebagai berikut :
a.       Terapi Sulih Hormon ( TSH )
Pengaruh obat hormon dalam terapi sulih hormon ( TSH ) bagi wanita menopause hingga saat ini mengandung pro dan kontra. Sementara penelitian tentang TSH masih terus dilakukan.
b.      Pola Hidup Sehat
Upaya menciptakan pola hidup sehat terutam di lakukan dengan mengatur menu makanan dan pola makan seimbang. Banyak menu makan sayuran hijau, buah biji – bijian , vitamin dan serat makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolisme tubuh. Selain itu juga, makanan yang dianjurkan adalah makanan yang rendah lemak jenuh, rendah kolesterol, kadar gula dan garam yang tidak berlebihan, cukup kalsium dan zat besi, serta cukup vitamin dan serat.
c.         Olahraga
Merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran. Olahraga yang teratus akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan memperbaiki suasana hati.
d.      Menerima dengan lapang dada bahwa proses penuaan tidak dapat dihindari dan masa menopause adalah sesuatu hal yang sangat alamiah yang dialami oleh setiap wanita.
e.       Hadapi masalah yang ada satu persatu,jangan sekaligus, berdasarkan prioritasnya.
f.       Untuk sementara masalah Menopause yang menimbulkan perasaan khawatir itu dihilangkan dan memusatkan pikiran pada sesuatu hal yang sangat berbeda dan menyenangkan.
g.      Menulis memo untuk diri sendiri untuk mengeluarkan semua unek-unek mengenai situasi perubahan fisik dan psikologik yang menimbulkan kekhawatiran, sikap-sikap orang dilingkungan anda dsb. Anda akan merasa lebih enak dan dapat berpikir lebih rasional setelah emosi-emosi negatif yang mendasari kekhawatiran bisa terekspresikan dalam memo itu.
h.      Menyesuaikan sikap. Tanyalah pada diri sendiri, hikmah positif apa yang dapat dipelajari saat masa menopause harus dihadapi . Letakkan stressor tersebut dalam perspektif yang benar, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif menguasai diri dan hindari sikap pesimis.
i.        Merubah lingkungan agar tidak lagi berada dalam keadaan yang monoton.
j.         Mencoba untuk memperbaiki penampilan agar lebih segar dan tampil cantik.
k.      Mempergunakan setiap waktu luang yang ada dengan melakukan banyak kegiatan yang positif dan kreatif. Dengan mengembangkan minat baru dan mempelajari keahlian yang baru akan memberikan perasaan senang bahwa ia bisa berprestasi.
l.        Masuk kegiatan politik atau aktif di kegiatan sosial, serta dapat memiliki atau menciptakan pekerjaan yang menarik, atau mempunyai pekerjaan dengan penghasilan yang tetap, akan dapat membuat seseorang merasa dirinya berguna bagi orang lain dan meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri.
m.    Pelajarilah dan berlatihlah secara teratur tehnik relaksasi yang tepat, tehnik-tehnik meditasi, yoga dll.
n.      Untuk mengatasi masalah pribadi dan lingkungan psikososialnya, perlu konsultasi dengan psikolog atau konsultasi ke dokter sesuai dengan keluhan yang dialaminya.

:2.8 manajemen kebidanan pada masa klimakterium
  Bagaimana bidan menghadapi masalah klimakterium ditengah masyarakat. Seperti dikemukakan bahwa hanya sekitar 25% wanita mengeluh karena terjadi penurunan estrogen tubuh dan memerlukan tambahan hormon sebagai substitusi.
Pemberian substitusi hormon tampa diikuti pengawasan ketat adalah berbahaya karena bidan dapat mengambil langkah:
a.    Melakukan KIEM sehingga wanita dengan keluhan menopousedapat memeriksakan dapat memberikan diri ke dokter puskesmas.
b.    bidan berkonsultasi dengan dokter puskesmas atau dokter ahli.
c.    setelah pengobatan, bidan dapat meneruskan pengawasan.
d.    bidan dapat merujuk penderia kerumah sakit.
Gangguan-gangguan endokrin : kelenjer endokrin dikeluarkan oleh seluruh tubuh dan bertanggung jawab untuk mengontrol fungsi internal tubuh dan reproduksi banyak hormon, penyakit dan rasa sakit, yang berefek seperti glans yaitu pituitari, hipotalamus, tiroid dan adrenal mempunyai dampak yang signifikan pada seksual wanita.













BAB III
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE

AUSHAN KEBIDANAN PADA IBU MENOPAUSE
PADA NY.R USIA 45 TAHUN DI BPS R BUKITTINGGI

Datang ke BPS : tanggal 02 agustus 2014
Tempat           : BPS R
Waktu           : 10.00

I.             PENGKAJIAN
A.   DATA SUBJEKTIF
1.    Identitas
Nama           : Ny. A
Umur            : 41 tahun
Alamat         : kubang putiah kecamatan Banuhampu,kabupaten Agam
Pendidikan    : SMP
Pekerjaan     : IRT (tidak bekerja)


a.    Alasan datang    : ingin melakukan pemeriksaan
b.    Keluhan             : ibu mengatakan ibu mengeluh haidnya tidak datang selama 3 bulan berturut-turut dan kalau haid darahnya banyak sampai lebih dari 15 hari.
ibu berkeringat banyak setiap harinya, dan merasa ada semburan rasa panas pada wajah, leher hingga dada sejak 1 tahun belakangan ini.



B.    DATA OBJEKTIF
1.    Pemeriksaan umum
a.    keadaan umum
kesadaran     : compos mentis
keadaan emosional : baik
b.    tanda- tanda vital
tekanan darah         : 130/80 mmhg
nadi                       : 83x/i
RR                         : 23X/i
Suhu                      : 36,70 c

2.    pemeriksaan fisik
konjungtiva            :tidak pucat
sklera                     : tidak ikterik
payudara                : tidak ada benjolan
          kulit                       : cendrung kering dan keriput

II.       INTERPRESTASI DATA
A.   Diagnosa Kebidanan
Ibu dengan gangguan pada masa klimakterium
Data dasar
a.                    Ibu mengatakan umurnya 41 tahun
b.   Ibu mengatakan ibu mengeluh haidnya tidak datang selama 3 bulan berturut-turut dan kalau haid darahnya banyak sampai lebih dari 15 hari.
c.    ibu berkeringat banyak setiap harinya, dan merasa ada semburan rasa panas pada wajah, leher hingga dada sejak 1 tahun belakangan ini.
d.                   tanda- tanda vital
tekanan darah       : 130/80 mmhg
nadi                      : 83x/i
RR                        : 23X/i
Suhu                     : 36,70 c
Kebutuhan
1.    Informasi
2.    Dukungan psikologis
3.    Peningkatan kualitas hidup
4.    Kolaborasi
5.    Kunjungan ulang

III. IDENTIFIKASI DAN ANTISIPASI DIAGNOSA POTENSIAL
Penyakit jantung koroner
osteoporosis
       
IV. TINDAKAN SEGERA
Melakukan kolaborasi dan rujukan dengan rumah sakit yang memiliki spesialis endokrinologi, ginekologi, dll. Untuk dilakukannya TSH pada ibu untuk mengurangi gejala yang ada.

V. PERENCANAAN
1.    Menginformasikan hasil pemeriksaan
2.    Menjelaskan  pada ibu agar meningkatkan kualitas hidupnya
3.    Berkolaborasi atau ruukan dengan rumah sakit
4.    Menjadwalkan kunjungan ulang

VI. PELAKSANAAN
1.         Menginformasikan pada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa ibu sekarang memasuki masa klimakterium yaitu Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir tahap reroduksi  dan  berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita berumr 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endrokinologis
Masa ini adalah suatu jangka waktu dimana wanita menyesuaikan diri dengan menurunnya produksi hormon-hormon oleh indung telur.
Menjelaskan kepada ibu bahwa keluhan yang dilami ibu sekarang adalah keadaan yang normal pada setiap wanita yang sudah berumur diatas 40 tahun keatas, untuk mengurangi gejala yang ibu alami ibu harus mendapatkan teraphy hormonal sehingga dengan terapi hormon dapat mengurangi keluhan yang ada.

2. menganjurkan ibu untuk meningkatkan kualitas hidupnya pada usia klimakterium dengan pemeriksan rutin secara teratur (misalnya 6bulan sekali). Perlu pengaturan diet dan olah raga teratur setiap harinya.
Olahraga
Merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran. Olahraga yang teratus akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan memperbaiki suasana hati.
Banyak menu makan sayuran hijau, buah biji – bijian , vitamin dan serat makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolisme tubuh. Selain itu juga, makanan yang dianjurkan adalah makanan yang rendah lemak jenuh, rendah kolesterol, kadar gula dan garam yang tidak berlebihan, cukup kalsium dan zat besi, serta cukup vitamin dan serat.


 3. Melakukan Rujukan ke rumah sakit sesuai dengan persetujuan ibu untuk dilakukannya TSH pada ibu sehingga Keluhan yang di alami ibu selama 1 tahun terakhir berkurang sesegera mungkin.

4. Menjadwalkan ibu untuk kunjungan
Ibu di anjurkan untuk datang ke tenaga kesehatan setiap kali mendapatkan keluhan yang membuat ibu tidak nyaman sehingga keluhan yang dialami ibu bisa segera di atasi.

VII. EVALUASI
1.    Ibu mengerti dan paham dengan informasi yang diberikan oleh bidan .
2.    Ibu bersedia untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
3.    Ibu ingin melaksanakan anjuran bidan untuk dilakukan rujukan kerumah sakit untuk mendapatkan terapi hormonal sehingga keluhan yang ibu rasakan segera berkurang.
4.    Ibu bersedia untuk selalu datang ke tenaga kesehatan jika mengalami masalah selama masa klimakterium.




























BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Masa reproduksi merupakan masa terpenting dalam kehidupan wanita yang berlangsung kira-kira tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa reproduksi ini disebut dengan masa klimakterium yang merupakan masa peralihan dari masa reproduksi ke masa senium . masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah monopouse
Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir tahap reroduksi  dan  berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita berumr 40-65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endrokinologis (prawirohardjo.2001)
Menopause artinya berhenti haid, terjadi dalam masa klimakterium pada usia sekitar 50 tahun.
Pascamenopause adalah masa 3 – 5 tahun setelah menopause
Ooforopause adalah saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya.
Klimaterium dan Menopause  sebagai bagian dari proses kehidupan memang tidak dapat dihindari. Menopause dan klimaterim bukanlah suatu penyakit, namun merupakan tahap yang tidak dapat dihindari pada kehidupan wanita. Beberapa gangguan yang terjadi pada masa  menopause yaitu: gangguan daya ingat, proses berpikir, gangguan Sensorik dan kognitif, gangguan kesadaran, gangguan Orientasi, dan gangguan fungsi intelektual.

4.2 Saran
Masa menopause dan klimaterium adalah suatu proses alamiah yang pasti dialami oleh setiap wanita. Untuk menghadapinya agar tidak timbul gangguan emosional yang pada dirinya maupun lingkungan, wanita perlu mengembangkan pikiran yang positif agar dapat mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh sejak masih muda, juga memperluas wawasan pengetahuan tentang masalah menopause.