Sabtu, 20 September 2014

Makalah Diabetes Gestasional



MAKALAH ASKEB PATOLOGI
Asuhan Kebidanan
Pada Ibu Hamil Dengan Diabetes Melitus


http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash3/41795_158436690854229_1321566_n.jpg

Oleh :
RISYA SEPTIANI






Dosen Pembimbing:
HASRAH M,S.SiT, M.biomed







PRODI DIII KEBIDANAN
STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2013/2014
KATA PENGANTAR


Segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Kehamilan Disertai Penyakit Diabetes Melitus”. Makalah ini disusun sebagai tugas kuliah  ASUHAN KEBIDANAN IV pada Program Pendidikan Diploma III Kebidanan.

Dalam penyusunan makalah  ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga akhirnya Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada :
1.      Ibu Hasrah M,S.SiT, M.Biomed selaku Dosen mata kuliah ASKEB IV.
2.      Teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
3.      Semua pihak yang telah memberikan semangat, yang tidak bisa penulis ungkapkan satu persatu.

Dengan segala rendah hati, penulis menyadari makalah ini masih terdapat kekurangan. Kritik dan saran penulis yang membangun sangat diharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahun bagi pembaca sebagaimana tujuan penyusunannya. Amin.


Bukittinggi,   April 2014



Penulis







DAFTAR ISI
Halaman
kata pengantar....................................................................................................................      i
daftar isi.............................................................................................................................      ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  pendahuluan ...............................................................................................................       1
1.2  rumusan masalah.........................................................................................................        1
1.3  tujuan..........................................................................................................................       1
1.3.1        tujuan umum...................................................................................................       2
1.3.2        tujuan khusus .................................................................................................       2

BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 defenisi diabetes melitus..............................................................................................        3
2.2 faktor resiko.................................................................................................................      3
2.3 klasifikasi.....................................................................................................................       4
2.4 etiologi.........................................................................................................................      5
2.5 gejala diabetes melitus.................................................................................................        6
2.6 patofisiologi..................................................................................................................      6
2.7 diagnostik.....................................................................................................................      7
2.8 pengaruh diabetes melitus dalam kehamilan................................................................          8
2.9 penatalaksanaan............................................................................................................     9

BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 manajemen asuhan kebidanan.....................................................................................        12

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan..................................................................................................................      18
4.2 saran.............................................................................................................................     18

Daftar pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 PENDAHULUAN
Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM merupakan kelainan endokrin yang terbanyak dijumpai. Diabetes Melitus dengan kehamilan (Diabetes Mellitus GestationalDMG) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Pada golongan ini, kondisi diabetes dialami sementara selama masa kehamilan. Artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa pertama kali didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga.
Prevalensi DM sulit ditentukan karena standar penetapan diagnosisnya berbeda-beda. Berdasarkan kriteria American Diabetes Association (ADA), sekitar 10,2 juta orang di Amerika Serikat (AS) menderita DM dan yang tidak terdiagnosis sekitar 5,4 juta. Dengan demikian, diperkirakan lebih dari 15 juta orang di AS menderita DM. Sementara itu, di Indonesia prevalensi DM sebesar 1,5-2,3% penduduk usia >15 tahun, bahkan di daerah Manado prevalensi DM sebesar 6,1%.
Diabetes melitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (di sekitar waktu melahirkan), dan ibu memiliki risiko untuk dapat menderita penyakit diabetes melitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan. Diabetes Mellitus Gestasional ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Frekuensi DMG kira-kira 3–5% dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.

Di Indonesia insiden DMG sekitar 1,9-3,6% dan sekitar 40-60% wanita yang pernah mengalami DMG pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan mengidap diabetes mellitus atau gangguan toleransi glukosa. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu dan 2 jam post prandial (pp). Bila hasilnya belum dapat memastikan diagnosis DM, dapat diikuti dengan test toleransi glukosa oral. DM ditegakkan apabila kadar glukosa darah sewaktu melebihi 200 mg%. Jika didapatkan nilai di bawah 100 mg% berarti bukan DM dan bila nilainya diantara 100-200 mg% belum pasti DM. Pada wanita hamil, sampai saat ini pemeriksaan yang terbaik adalah dengan test tantangan glukosa yaitu dengan pembebanan 50 gram glukosa dan kadar glukosa darah diukur 1 jam kemudian. Jika kadar glukosa darah setelah 1 jam pembebanan melebihi 140 mg% maka dilanjutkan dengan pemeriksaan test tolesansi glukosa oral. Gangguan DM terjadi 2 % dari semua wanita hamil, kejadian meningkat sejalan dengan umur kehamilan, tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi glokusa , 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. DM gestasional merupakan keadaan yang perlu ditangani dengan professional, karena dapat mempengaruhi kehidupan janin/ bayi dimasa yang akan datang, juga saat persalinan.


1.3  TUJUAN
1.3.1        TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan diabetes melitus
1.3.2    TUJUAN KHUSUS
1.      Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada ibu hamil dengan diabetes melitus
2.      Mahasiswa mengerti dan mampu menginterprestasi data sehingga mampu merumuskan diagnosa berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan.
3.      Mahasiswa mampu untuk mengidentifikasi diagnosa potensial pada ibu dengan diabetes melitus
4.      Mahasiswa mengerti tentang tindakan segera yang dibutuhkan pada ibu dengan diabetes melitus
5.      Mahasiswa mampu merencanakan asuhan pada ibu hamil dengan diabetes melitus
6.      Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan diabetes melitus.
7.      Mahasiswa mampu melakukan evaluasi dari asuhan yang diberikan

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 DEFINISI  DIABETES MELLITUS
Menurut Brunner and Suddarth, 2001, Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Pada Diabetes Mellitus, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap insulin dapat menurun, atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi insulin.
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah kelainan pada metabolisme karbohidrat dari faktor yang memberatkan yang terjadi selama kehamilan (Marilyn, 2001).
Diabetes Mellitus Gestational adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia).
Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.
      Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.


2.2 FAKTOR RESIKO
Menurut Mochtar, 1998 kemungkinan diabetes dalam kehamilan lebih besar bila:
1. Umur sudah lebih dari 30 tahun.
2. Multiparitas.
3. Gemuk (obesitas) yaitu berat badan saat hamil lebih dari 20% berat badan ideal.
4. Ada anggota keluarga sakit diabetes (hereditas).
5. Ada sejarah lahir mati dan anak besar (bayi dengan berat lebih dari 4000 gram).
6. Sering abortus.
7. Glukosuria.

2.3 KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Diabetes Mellitus secara Umum.
a.       Tipe I: Diabetes Mellitus tergantung insulin (Insulin Dependen Diabetes Mellitus : IDDM.)
b.      Tipe II: Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus: NIDDM).
c.       Diabetes Mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.
d.      Diabetes mellitus Gestasional (DMG).
2. Klasifikasi menurut umur, waktu penyakit timbul, lama sakit, berat penyakit, dan     komplikasi (White)
a.       Kelas A: Diabetes laten (subklinis atau diabetes hamil). Uji toleransi gula tidak normal. Pengobatan tidak memerlukan insulin, cukup dengan diet saja. Prognosis untuk ibu dan janin baik.
b.      Kelas B: Diabetes dewasa diketahui setelah usia 19 tahun; berlangsung kurang dari 10 tahun; tidak disertai kelainan pembuluh darah.
c.       Kelas C: timbul pada umur 10-19 tahun, menderita selama 10-19 tahun; tanpa kelainan pembuluh darah.
d.      Kelas D: Diderita sejak umur 10 tahun; lama 20 tahun; disertai kelainan pembuluh darah seperti arteriosklerosis pada retina, tungkai, dan renitis.
e.       Kelas E: Telah terjadi kalsifikasi pembuluh darah.
f.        Kelas F: Diabetes dengan nefropatia, termasuk glomerulonefritis dan pielonefritis.
g.       Kelas R: Diabetes dengan komplikasi retinistis proliferans atau dengan perdarahan dalam korpus vitreum.
h.       Kelas H: Diabetes dengan komplikasi penyakit koroner.




2.4 ETIOLOGI
1. Diabetes Tipe I
Menurut Brunner dan Suddart, 2001 ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya dabetes tipe I:
a Faktor genetik.
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya diabetes tipe I.
b. Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat adanya respon otoimun abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Penyelidikan sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta.


2. Diabetes Tipe II
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001 mekanisme yang tepat yang menyebabkan belum diketahui. Namun, ada beberapa resiko yang berhubungan dengan terjadinya DM type II, antara lain:
a. Faktor genetik.
b. Usia.
c. Obesitas.
d. Riwayat keluarga.
e. Kelompok etnik.

3. Diabetes Gestasional
Penyebab gestational diabetes Saat kehamilan, plasenta memproduksi hormon untuk menopang kehamilan. Hormon ini membuat sel lebih resisten terhadap insulin. Seiring pembesaran plasenta pada tiga bulan kedua dan ketiga, maka hormon tersebut semakin banyak dihasilkan. Normalnya pankreas akan merespon dengan menghasilkan lebih banyak insulin. Tetapi terkadang pankreas justru tidak mampu meresponnya. Ini membuat glukosa banyak menumpuk di darah dan tidak terserap ke dalam sel.
2.5 GEJALA DM
Gejala utama dari kelainan ini pada prinsipnya sama dengan gejala utama pada penyakit diabetes yang lain yaitu :

1.  sering buang air kecil (polyuri)
2. selalu merasa haus (polydipsi)
3. sering merasa lapar (polyfagi).

Cuma yang membedakan adalah keadaan pasien saat ini sedang hamil. Sayangnya penemuan kasus kasus diabetes gestasional sebagian besar karena kebetulan sebab pasien tidak akan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya selain kehamilan, dan gejala sering kencing dan banyak makan juga biasa terjadi pada kehamilan normal.
Seperti halnya penyakit kencing manis pada umumnya, pada pemeriksaan gula darah pun ditemukan nilai yang tinggi pada kadar gula darah puasa dan 2 jam setelah makan serta bila dilakukan pemeriksaan kadar gula pada urine (air kencing) juga ditemukan reaksi positif.

2.6 PATOFISIOLOGI
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin, sehingga kadar gula darah ibu mempengaruhi kadar darah janin. Pengendalian kadar gula darah terutama dipengaruhi oleh insulin, di samping hormon estrogen, steroid, dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resorbsi makanan maka terjadi hiperglikemia yang relatif lama dan ini menyebabkan kebutuhan insulin meningkat. Menjelang aterm kebutuhan insulin meningkat hingga mencapai 3 kali dari keadaan normal. Hal ini disebut tekanan diabetojenik dalam kehamilan. Secara fisiologis telah terjadi resistensi insulin, yaitu bila ia ditambah dengan insulin eksogen ia tidak mudah menjadi hipoglikemia. Yang menjadi masalah adalah bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan insulin, sehingga ia relatif hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikemia atau diabetes kehamilan.
Glukosa yang tidak masuk ke sel tubuh akan tertimbun di dalam darah. Setelah mencapai kadar tertentu, glukosa tersebut juga akan muncul dalam air seni, padahal air seni yang normal tidak mengandung glukosa. Jika glukosa terdapat dalam air seni, glukosa tersebut akan menarik lebih banyak air bersamanya dengan demikian menyebabkan bertambahnya volume air seni. Karena terjadi pengeluaran air seni yang berlebihan, tubuh kehilangan banyak cairan, sehingga terjadi rasa haus yang berlebihan.
Ketika sel tidak terdapat cukup glukosa dikarenakan kurangnya jumlah insulin, meski sebenarnya dalam darah terdapat glukosa yang berlebihan, boleh dikatakan sel-sel ini ‘kelaparan’. Hal ini menyebabkan peningkatan nafsu makan dan walaupun penderita DM sudah makan lebih banyak, kelihatannya sel tidak pernah mendapatkan cukup glukosa.
Untuk mendapatkan energi yang dibutuhkan, sel yang “kelaparan” ini mulai memecahkan lemak dan protein yang ada di dalam tubuh. Hal ini mengakibatkan turunnya berat badan dan rasa lelah. Jika kadar glukosa dalam darah sangat tinggi, beberapa orang menjadi mudah tersinggung. Selain itu, tubuh juga menjadi rentan terhadap infeksi.
Tidak semua penderita diabetes mengalami gejala ini dan beberapa orang lainnya bahkan tidak mengalami gejala apa pun; pada keadaan ini, baru diketahui bahwa mereka ternyata menderita penyakit DM daripemeriksaan laboratorium rutin.
Resistensi insulin juga dapat disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progesteron, kortisol, prolaktin, dan plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin pada sel, sehingga mengurangi afinitas insulin (Prawirohardjo, 1997).
2.7 DIAGNOSTIK
 Menurut Manuaba, 2000, dasar diagnosis kahamilan pada diabetesmellitus:
a.       Sejarah keluarga dengan diabetes mellitus.
b.      Kehamilan dengan sejarah abortus, kematian janin, atau bayi besar diatas 4 kg.
c.       Pemeriksaan alfa feto protein untuk mencari kemungkinan kelainan kongenital atau neurologis.
d.      Pemeriksaan gula darah di atas 140 mg/lt.
e.       Hasil glukosa toleransi tes abnormal:
1) Puasa kurang dari 90.
2) Jam 1 kurang dari 165
3) Jam 2 kurang dari 145
4) Jam 3 kurang dari 125
f. Kehamilan dengan cacat jasmani.

2.8 PENGARUH DIABETES MELLITUS TERHADAP KEHAMILAN
1. Dalam kehamilan
a. Insufisiensi plasenta menyebabkan:
1) Abortus-prematurius.
2) Kematian janin dalam rahim.
3) Kelainan kongenital meningkat
b. Komplikasi kehamilan dengan DM:
1) Hidramnion.
2) Makrosomia diikuti kelainan letak janin.
3) Pre-eklampsia dan eklampsia.
2. Pengaruh diabetes tehadap persalinan
a. Inersia uteri primer dan sekunder.
b. Persalinan operatif makrosomia.
3. Pengaruh terhadap kala nifas
Mudah terjadi infeksi sampai sepsis.
4. Pengaruh terhadap janin
Gangguan insufisiensi plasenta :
a. Abortus sampai kematian janin dalam rahim.
b. Makrosomia dengan komplikasinya.
c. Dismaturitas dan meningkatnya kematian neonatus kelainan kongenital.
d. Kelainan neurologis sampai IQ rendah.
e. Kematangan paru terhambat menimbulkan RDS, asfiksia, dan lahir mati.

2.9 PENTALAKSANAAN
Pengobatan dan penanganan penderita diabetes yang hamil dilakukan untuk mencapai 3 maksud utama, yaitu:
a. Menghindari ketosis dan hipoglikemia.
b. Mengurangi terjadinya hiperglikemia dan glisuria.
c. Mengoptimalkan gestasi.
 Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl, 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl, dan kadar HbA1c<6%. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan.  Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI, kenaikan BB pada trimester I diusahakan sebesar 1-2,5 kg dan selanjutnya 0,5 kg /minggu, total kenaikan BB sekitar 10-12 kg.
Penatalaksanaan Obstetric :
Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU, mendengarkan DJJ, dan secara khusus memakai USG dan KTG. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.
Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik, namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38 minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin.
Penanganan pada penderita DM meliputi:
1. Diet
Penderita harus mendapatkan lebih banyak kalori karena berat badannya bertambah menurun. Penderita DM dengan berat badan rata-rata cukup diberi diet yang mengandung 1200-1800 kalori sehari selama kehamilan. Pemeriksaan urine dan darah berkala dilakukan untuk mengubah dietnya apabila perlu. Diet dianjurkan ialah karbohidrat 40%, protein 2 gr/kg berat badan, lemak 45-60gr. Garam perlu dibatasi untuk mengurangi kecenderungan retensi air dan garam.
2. Olah raga
Wanita hamil perlu olah raga, tetapi sekedar untuk menjaga kesehatannya. Kita tidak bisa memaksakan olah raga pada ibu hamil hanya untuk menurunkan gula dalam darahnya.
3. Obat-obat antidiabetik
Selama kehamilan kadar darah diatur dengan antidiabetik. Pemeriksaan kadar darah harus dilakukan lebih sering. Pemberian suntikan insulin merupakan salah satu pengobatan bagi penderita penyakit DMG untuk mengontrol kadar gula darahnya. Beberapa jenis obat-obat untuk penderita DM yang dapat dikonsumsi dengan dimakan dan yang beredar di Indonesia hingga saat ini memang tidak seluruhnya boleh diberikan pada ibu hamil, karena dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi janin yang dikandung. Misalnya menimbulkan cacat bawaan pada janin.Pada trimester pertama paling sukar dilakukan pengobatan karena adanya nausea dan vomitus. Pada timester kedua pengobatan tidak begitu sukar lagi karena tidak perlu perubahan diet dan dosis antidiabetik. Dalam trimester ketiga sering diperlukan lebih banyak antidiabetik karena meningginya toleransi hidrat arang.
4. Diuretik
Jika ada hipertensi atau tanda-tanda retensi cairan dianjurkan miskin garam. Jika ini tidak menolong dapat diberikan deuretik.
5. Steroid-steroid seks
Sekresi estrogen berkurang pada wanita hamil diabetik. Komplikasi pada fetus berkurang jika selama kehamilan diberi estrogen dan progesteron dalan dosis besar.
6. Penatalaksanaan obstetrik
a. Persalinan dilakukan:
1) Pertahankan sampai aterm dan spontan.
2) Induksi persalinan pada minggu 37-38.
3) Primer seksio sesarea.
b. Penanganan bayi dengan DM:
1) Disamakan dengan bayi prematur.
2) Observasi kemungkinan hipoglisemia.
3) Perawatan intensif: neonatus intensif unit care dengan pengawasan ahli neonatologi.





























BAB III
TINJAUAN KASUS

AUSHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI
PADA IBU G6P2A4H1 UMUR 35 TAHUN HAMIL 23 MINGGU DENGAN DIABETES MELITUS GESTASIONAL DI PUSKESMAS NILAM SARI


Masuk BPS Hari/tanggal           : 9 mai 2014
I.                    PENGKAJIAN
A.     DATA SUBJEKTIF
1.      Identitas
Umur                : 35 tahun
a.       Alasan datang         :
b.      Keluahan                : ibu mengatakan sering BAK, sering merasa haus dan lapar
c.       Riwayat obstetrik    : ibu G6P2A4H2
Kehamilan I : Ibu abortus pada usia kehamilan 20 minggu karena ibu mengalami jatuh dari kendaraan.
Data dasar:
Subjektif : ibu mengatakan baru mengalami kecelakaan
ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan
                  Ibu mengatakan nyeri yang hebat dia ari-ari
Objektif : dari pemeriksaan dokter di temukan terjadi abortus inkomplit dimana sebagian dari hasil konsepsi sudah berada di luar uterus
Sehingga segera dilakukan penanganan dengan kuret oleh dokter SPOG.
Kehamilan II :  Bayi lahir dengan usia kehamilan 39 minggu dengan Berat badan lahir 4200 gr.
Kehamilan III : Ibu mengalami abortus usia kehamilan 22 minggu setelah di diagnosa ibu menderita diabetes melitus.
Data dasar:
Subjektif : ibu mengeluh sering BAK, sring merasa lapar dan haus
Objektif : penambahan berat badan ibu selama hamil sampai kehamilan 22 minggu yaitu 13 kg.
Pemeriksaan glukasa urin (+)
Pemeriksaan darah glukosa darah 250 mg/lt
Kehamilan ke IV : bayi lahir mati karena komplikasi diabetes melitus
Kehamilan V : bayi  lahir hidup pada usia kehamilan 38 minggu dengan Berat badan lahir 4300 gr.
Kehamilan Ini
2.      Riwayat kehamilan sekarang
HPHT : 1 Desember 2013
3.      Riwayat kesehatan
a.       Penyakit yang pernah atau sedang diderita (menular, menurun, menahun)
Ibu mengatakan ibu mengalami riwayat diabetes melitus gestasional
b.      Penyakit yang pernah atau sedang diderita keluarga (menular, manahun, menurun
Ibu mengatakan orang tua mengalami diabetes melitus
4.      Pola pemenuhan kebutuhan
a.       Pola nutrisi
·        Sebelum hamil
Kebiasaan makan : 3 kali sehari
Jenis makanan        : Nasi, sayur, buah ikan, dan teh manis
Selera makan         : normal
Masalah                 : tidak ada
·        Saat hamil
Kebiasaan makan : 6-7 kali sehari
Selera makan         : sangat tinggi
Keluhan                 : ibu mudah lapar
b.      Pola eliminasi
BAK
Frekuensi : 14-15 kali sehari
Warna      : kuning

B.     DATA OBJEKTIF
1.      Pemeriksaan umum
a.       keadaan umum
kesadaran         : compos mentis
keadaan emosional : baik
b.      berat badan
sebelum hamil : 63 kg
saat hamil  : 73 kg

c.       tanda- tanda vital
tekanan darah : 150/90 mmhg

2.      pemeriksaan fisik
1.      Abdomen
Leopold
Leopold I  : TFU 3 jari diatas pusat (26 CM)               
                    Bundar dan tidak melenting
TFU           : 26 cm
TBBJ         : (26-13)x 155
                      2015 gr
Pemeriksaan laboratorium
a.       Urin
Glukosa urin                       : positif (+) Di laboratoriun puskesmas
Pemeriksaan gula darah      : 175 mg/lt

II.            INTERPRESTASI DATA
A.     Diagnosa Kebidanan
Ibu G6P2A4H1 usia kehamilan 23 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterin, preskep V keadaan jalan lahir baik KU ibu dengan diabetes gestasional.

Data dasar
            Ibu mengatakan umurnya 35 tahun
            Ibu mengatakan ibu sering BAK, sering haus, sering lapar
            Keadaan umum ibu baik
            Kesadaran kompos mentis
            Tanda-tanda vital
                        TD: 150/90 mmHg
            TFU  3 Jari diatas pusat (TFU tidak sesuai dengan usia kehamilan )
            Glukosa urin positif (+)
            Pemeriksaan gula darah 175 mg/lt
B.     Masalah
Ibu hamil dengan diabetes gestasional

Kebutuhan
1.      Informasi
2.      Pendkes diet ibu
3.      Olah raga
4.      Kolaborasi
5.      Kunjungan ulang

III.          IDENTIFIKASI DAN ANTISIPASI DIAGNOSA POTENSIAL
a.  Dalam kehamilan
a. Insufisiensi plasenta menyebabkan:
1) Abortus-prematurius.
2) Kematian janin dalam rahim.
3) Kelainan kongenital meningkat
b. Komplikasi kehamilan dengan DM:
1) Hidramnion.
2) Makrosomia diikuti kelainan letak janin.
3) Pre-eklampsia dan eklampsia.
b. Pengaruh diabetes tehadap persalinan
a. Inersia uteri primer dan sekunder.
b. Persalinan operatif makrosomia.
c. Pengaruh terhadap kala nifas
Mudah terjadi infeksi sampai sepsis.
d.      Pengaruh terhadap janin
Gangguan insufisiensi plasenta :
a. Abortus sampai kematian janin dalam rahim.
b. Makrosomia dengan komplikasinya.
c. Dismaturitas dan meningkatnya kematian neonatus kelainan kongenital.
d. Kelainan neurologis sampai IQ rendah.
e. Kematangan paru terhambat menimbulkan RDS, asfiksia, dan lahir mati.

IV.              TINDAKAN SEGERA
Melakukan kolaborasi dan rujukan dengan dokter SPOG

V.                 PERENCANAAN
1.      Menginformasikan hasil pemeriksaan
2.      Menjelaskan pendkes nutrisi pada ibu
3.      Menjelaskan pada ibu tentang olahraga
4.      Berkolaborasi dengan dokter SPOG
5.      Menjadwalkan kunjungan ulang pada ibu 2 minggu lagi

VI.              PELAKSANAAN
1.      Menginformasikan pada ibu dan keluarga hasil pemeriksaan dirinya dan bayinya kurang baik dimana dari hasil pemeriksaan,
Tanda-tanda vital
            TD: 150/90 mmHg
            TFU  3 Jari diatas pusat (TFU tidak sesuai dengan usia kehamilan )
            Glukosa urin positif (+)
            Pemeriksaan gula darah 175 mg/lt
2.      Menjelaskan pada ibu tentang nutrisi
Penderita harus mendapatkan lebih banyak kalori karena berat badannya bertambah menurun. Penderita DM dengan berat badan rata-rata cukup diberi diet yang mengandung 1200-1800 kalori sehari selama kehamilan. Pemeriksaan urine dan darah berkala dilakukan untuk mengubah dietnya apabila perlu. Diet dianjurkan ialah karbohidrat 40%, protein 2 gr/kg berat badan, lemak 45-60gr. Garam perlu dibatasi untuk mengurangi kecenderungan retensi air dan garam.
Dan ibu tetap dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi banyak sayuran untuk memenuhi nutrisi ibu,
Menganjurkan ibu untuk mengurangi minuman manis seperti minuman kaleng, karena banyak mengandung gula sehingga dapat meningkatkan tekanan darah pada ibu.

3.      Menganjurkan ibu untuk olahraga teratur
Seperti jalan pagi secara teratur sehingga dapat mengontrol kadar gula didalam darah sehingga dapat menurunkan berat badan dan tekanan darah.

4.      Melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG dalam oemberian insulin jika nantinya dibutuhkan yaitu apabila setelah ibu dianjurkan dengan olah raga yang teratur dan diet dengan benar tetapi tetap tidak menurunkan kadar hula dalam darah ibu, sehingga di perlukan pengobatan berupa insulin.

5.      Menjadwalkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu lagi

Untuk melakukan pemantauan kadar gula darah ibu minimal 2 minggu sekali
Anjurkan pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering saat mendekati persalinan.

VII.            EVALUASI
1.      Ibu mengerti dan paham dengan informasi yang diberikan oleh bidan dan ibu merasa agak cemas dengan kehamilannya.
2.      Ibu bersedia melaksaan diet sesuai dengan anjuran bidan’
3.      Ibu bersedia untuk melakukan ilah raga secara teratur.
4.      Ibu bersedia jika nantinya dilakukan kolaborasi dengan dokter untuk keselamatan bayinya
5.      Ibu bersedia untuk kunjungan ulang.






BAB IV
PENUTUP


4.1 KESIMPULAN
Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.
      Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.
Pada saat kehamilan kesehatan ibu dan janin adalah sangat penting dan saling mempengaruhi. Kondisi janin yang baik sangat diperlukan tetapi keselamatan ibu menjadi prioritas utama. Idealnya pengobatan ibu dengan obat-obatan, pemeriksaan diagnostik dan pembedahan perlu dihindarkan pada ibu hamil, tetapi bila diperlukan dapat dilakukan.
Diabetes mellitus merupakan komplikasi medis yang paling umum terjadi selama kehamilan. Pengendalian kadar glukosa darah adalah hal penting selama kehamilan. Pada pasien yang telah menderita DM sebelumnya jika kemudian hamil maka akan cukup rawan untuk terjadi komplikasi pada janin yang dikandung, dan juga kesehatan si ibu dapat memburuk apabila terjadi komplikasi-komplikasi diabetik.


4.2              Saran
                        Semoga makalah ini dapat diambil sebagai pembelajaran dan diterima oleh pembaca dan penilai. Penulis sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan yang membangaun untuk penyempurnaan dari makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, 2011.Ilmu Kebidanan.Jakarta
F.Garry Cuningham. Obstetri William edisi 2
http:// www.blogspot.co.id/asuhan kebidanan patologi 24 april 2014, 19.00

 






4 komentar: