MAKALAH ASKEB PATOLOGI
Asuhan Kebidanan
Pada Ibu Hamil Dengan
Diabetes Melitus

Oleh :
RISYA SEPTIANI
Dosen Pembimbing:
HASRAH M,S.SiT, M.biomed
PRODI DIII
KEBIDANAN
STIKES YARSI
SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2013/2014
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul “Kehamilan Disertai
Penyakit Diabetes Melitus”. Makalah ini disusun
sebagai tugas kuliah ASUHAN KEBIDANAN IV
pada Program Pendidikan Diploma III Kebidanan.
Dalam penyusunan makalah ini
penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga
akhirnya Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan kali ini
penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Ibu Hasrah M,S.SiT, M.Biomed selaku Dosen mata kuliah ASKEB IV.
2. Teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
3. Semua pihak yang telah memberikan semangat, yang tidak bisa penulis
ungkapkan satu persatu.
Dengan segala rendah hati, penulis menyadari makalah ini masih terdapat
kekurangan. Kritik dan saran penulis yang membangun sangat diharapkan semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahun bagi pembaca sebagaimana
tujuan penyusunannya. Amin.
Bukittinggi,
April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
kata pengantar.................................................................................................................... i
daftar isi............................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 pendahuluan
............................................................................................................... 1
1.2 rumusan
masalah......................................................................................................... 1
1.3 tujuan.......................................................................................................................... 1
1.3.1
tujuan umum................................................................................................... 2
1.3.2
tujuan khusus ................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 defenisi diabetes melitus.............................................................................................. 3
2.2 faktor resiko................................................................................................................. 3
2.3 klasifikasi..................................................................................................................... 4
2.4 etiologi......................................................................................................................... 5
2.5 gejala diabetes melitus................................................................................................. 6
2.6 patofisiologi.................................................................................................................. 6
2.7 diagnostik..................................................................................................................... 7
2.8 pengaruh diabetes melitus dalam kehamilan................................................................ 8
2.9 penatalaksanaan............................................................................................................ 9
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 manajemen asuhan kebidanan..................................................................................... 12
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 18
4.2 saran............................................................................................................................. 18
Daftar pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 PENDAHULUAN
Diabetes Mellitus (DM) adalah
kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan
dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM merupakan kelainan
endokrin yang terbanyak dijumpai. Diabetes Melitus dengan kehamilan (Diabetes
Mellitus Gestational – DMG) adalah kehamilan normal yang disertai dengan
peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia).
Pada golongan ini, kondisi diabetes dialami sementara selama masa kehamilan.
Artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa pertama kali didapati selama
masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga.
Prevalensi DM sulit ditentukan
karena standar penetapan diagnosisnya berbeda-beda. Berdasarkan kriteria American
Diabetes Association (ADA), sekitar 10,2 juta orang di Amerika Serikat (AS)
menderita DM dan yang tidak terdiagnosis sekitar 5,4 juta. Dengan demikian,
diperkirakan lebih dari 15 juta orang di AS menderita DM. Sementara itu, di
Indonesia prevalensi DM sebesar 1,5-2,3% penduduk usia >15 tahun, bahkan di
daerah Manado prevalensi DM sebesar 6,1%.
Diabetes melitus gestasional
berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (di sekitar waktu
melahirkan), dan ibu memiliki risiko untuk dapat menderita penyakit diabetes
melitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan.
Diabetes Mellitus Gestasional ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya
hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi
dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan
bayi dan makrosomia. Frekuensi DMG kira-kira 3–5% dan para ibu tersebut
meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.
Di Indonesia insiden DMG sekitar 1,9-3,6% dan sekitar 40-60% wanita yang
pernah mengalami DMG pada pengamatan lanjut pasca persalinan akan mengidap
diabetes mellitus atau gangguan toleransi glukosa. Pemeriksaan penyaring dapat
dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu dan 2 jam post prandial
(pp). Bila hasilnya belum dapat memastikan diagnosis DM, dapat diikuti dengan
test toleransi glukosa oral. DM ditegakkan apabila kadar glukosa darah sewaktu
melebihi 200 mg%. Jika didapatkan nilai di bawah 100 mg% berarti bukan DM dan
bila nilainya diantara 100-200 mg% belum pasti DM. Pada wanita hamil, sampai
saat ini pemeriksaan yang terbaik adalah dengan test tantangan glukosa yaitu
dengan pembebanan 50 gram glukosa dan kadar glukosa darah diukur 1 jam
kemudian. Jika kadar glukosa darah setelah 1 jam pembebanan melebihi 140 mg%
maka dilanjutkan dengan pemeriksaan test tolesansi glukosa oral. Gangguan DM
terjadi 2 % dari semua wanita hamil, kejadian meningkat sejalan dengan umur
kehamilan, tetapi tidak merupakan kecenderungan orang dengan gangguan toleransi
glokusa , 25% kemungkinan akan berkembang menjadi DM. DM gestasional merupakan
keadaan yang perlu ditangani dengan professional, karena dapat mempengaruhi
kehidupan janin/ bayi dimasa yang akan datang, juga saat persalinan.
1.3
TUJUAN
1.3.1
TUJUAN
UMUM
Mahasiswa mampu melakukan
asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan diabetes melitus
1.3.2 TUJUAN
KHUSUS
1. Mahasiswa
mampu melakukan pengkajian pada ibu hamil dengan diabetes melitus
2. Mahasiswa
mengerti dan mampu menginterprestasi data sehingga mampu merumuskan diagnosa
berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan.
3. Mahasiswa
mampu untuk mengidentifikasi diagnosa potensial pada ibu dengan diabetes
melitus
4. Mahasiswa
mengerti tentang tindakan segera yang dibutuhkan pada ibu dengan diabetes
melitus
5. Mahasiswa
mampu merencanakan asuhan pada ibu hamil dengan diabetes melitus
6. Mahasiswa
mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan diabetes melitus.
7. Mahasiswa
mampu melakukan evaluasi dari asuhan yang diberikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
DEFINISI DIABETES MELLITUS
Menurut Brunner and Suddarth, 2001,
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan kadar glukosa dalam darah atau
hiperglikemia. Pada Diabetes Mellitus, kemampuan tubuh untuk bereaksi terhadap
insulin dapat menurun, atau pankreas dapat menghentikan sama sekali produksi
insulin.
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG)
adalah kelainan pada metabolisme karbohidrat dari faktor yang memberatkan yang
terjadi selama kehamilan (Marilyn, 2001).
Diabetes Mellitus Gestational adalah
kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu
hamil gagal mempertahankan euglycemia).
Diabetes mellitus pada kehamilan adalah
intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM),
terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini
mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru
diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.
Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang
pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat
berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam
darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai
janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian
kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain :
estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka
terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.
2.2 FAKTOR RESIKO
Menurut Mochtar, 1998
kemungkinan diabetes dalam kehamilan lebih besar bila:
1. Umur sudah
lebih dari 30 tahun.
2. Multiparitas.
3. Gemuk
(obesitas) yaitu berat badan saat hamil lebih dari 20% berat badan ideal.
4. Ada anggota
keluarga sakit diabetes (hereditas).
5. Ada sejarah
lahir mati dan anak besar (bayi dengan berat lebih dari 4000 gram).
6. Sering
abortus.
7. Glukosuria.
2.3 KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Diabetes Mellitus secara Umum.
a.
Tipe I: Diabetes
Mellitus tergantung insulin (Insulin Dependen Diabetes Mellitus : IDDM.)
b.
Tipe II: Diabetes
Mellitus tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus:
NIDDM).
c.
Diabetes Mellitus yang
berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.
d.
Diabetes mellitus
Gestasional (DMG).
2. Klasifikasi menurut umur, waktu penyakit timbul, lama sakit, berat
penyakit, dan komplikasi (White)
a.
Kelas A: Diabetes
laten (subklinis atau diabetes hamil). Uji toleransi gula tidak normal.
Pengobatan tidak memerlukan insulin, cukup dengan diet saja. Prognosis untuk
ibu dan janin baik.
b.
Kelas B: Diabetes
dewasa diketahui setelah usia 19 tahun; berlangsung kurang dari 10 tahun; tidak
disertai kelainan pembuluh darah.
c.
Kelas C: timbul pada
umur 10-19 tahun, menderita selama 10-19 tahun; tanpa kelainan pembuluh darah.
d.
Kelas D: Diderita
sejak umur 10 tahun; lama 20 tahun; disertai kelainan pembuluh darah seperti
arteriosklerosis pada retina, tungkai, dan renitis.
e.
Kelas E: Telah terjadi
kalsifikasi pembuluh darah.
f.
Kelas F: Diabetes
dengan nefropatia, termasuk glomerulonefritis dan pielonefritis.
g.
Kelas R: Diabetes
dengan komplikasi retinistis proliferans atau dengan perdarahan dalam korpus
vitreum.
h.
Kelas H: Diabetes
dengan komplikasi penyakit koroner.
2.4 ETIOLOGI
1. Diabetes Tipe I
Menurut Brunner dan Suddart, 2001 ada
beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya dabetes tipe I:
a Faktor genetik.
Penderita diabetes
tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi
atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya diabetes tipe I.
b. Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat adanya
respon otoimun abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh
dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah
sebagai jaringan asing.
c. Faktor lingkungan
Penyelidikan sedang dilakukan terhadap
kemungkinan faktor-faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta.
2. Diabetes Tipe II
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001
mekanisme yang tepat yang menyebabkan belum diketahui. Namun, ada beberapa
resiko yang berhubungan dengan terjadinya DM type II, antara lain:
a. Faktor genetik.
b. Usia.
c. Obesitas.
d. Riwayat keluarga.
e. Kelompok etnik.
3. Diabetes Gestasional
Penyebab
gestational diabetes Saat kehamilan, plasenta memproduksi hormon untuk menopang
kehamilan. Hormon ini membuat sel lebih resisten terhadap insulin. Seiring
pembesaran plasenta pada tiga bulan kedua dan ketiga, maka hormon tersebut
semakin banyak dihasilkan. Normalnya pankreas akan merespon dengan menghasilkan
lebih banyak insulin. Tetapi terkadang pankreas justru tidak mampu meresponnya.
Ini membuat glukosa banyak menumpuk di darah dan tidak terserap ke dalam sel.
2.5 GEJALA
DM
Gejala
utama dari kelainan ini pada prinsipnya sama dengan gejala utama pada penyakit
diabetes yang lain yaitu :
1. sering buang air kecil (polyuri)
2.
selalu merasa haus (polydipsi)
3.
sering merasa lapar (polyfagi).
Cuma
yang membedakan adalah keadaan pasien saat ini sedang hamil. Sayangnya penemuan
kasus kasus diabetes gestasional sebagian besar karena kebetulan sebab pasien
tidak akan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya selain kehamilan, dan
gejala sering kencing dan banyak makan juga biasa terjadi pada kehamilan
normal.
Seperti
halnya penyakit kencing manis pada umumnya, pada pemeriksaan gula darah pun
ditemukan nilai yang tinggi pada kadar gula darah puasa dan 2 jam setelah makan
serta bila dilakukan pemeriksaan kadar gula pada urine (air kencing) juga
ditemukan reaksi positif.
2.6 PATOFISIOLOGI
Dalam kehamilan terjadi
perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang pemasokan makanan
bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap
melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam darah janin hampir
menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin, sehingga
kadar gula darah ibu mempengaruhi kadar darah janin. Pengendalian kadar gula
darah terutama dipengaruhi oleh insulin, di samping hormon estrogen, steroid,
dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resorbsi makanan maka terjadi
hiperglikemia yang relatif lama dan ini menyebabkan kebutuhan insulin
meningkat. Menjelang aterm kebutuhan insulin meningkat hingga mencapai 3 kali
dari keadaan normal. Hal ini disebut tekanan diabetojenik dalam kehamilan.
Secara fisiologis telah terjadi resistensi insulin, yaitu bila ia ditambah
dengan insulin eksogen ia tidak mudah menjadi hipoglikemia. Yang menjadi
masalah adalah bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan insulin, sehingga ia
relatif hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikemia atau diabetes kehamilan.
Glukosa yang tidak
masuk ke sel tubuh akan tertimbun di dalam darah. Setelah mencapai kadar
tertentu, glukosa tersebut juga akan muncul dalam air seni, padahal air seni
yang normal tidak mengandung glukosa. Jika glukosa terdapat dalam air seni,
glukosa tersebut akan menarik lebih banyak air bersamanya dengan demikian
menyebabkan bertambahnya volume air seni. Karena terjadi pengeluaran air seni
yang berlebihan, tubuh kehilangan banyak cairan, sehingga terjadi rasa haus
yang berlebihan.
Ketika sel tidak
terdapat cukup glukosa dikarenakan kurangnya jumlah insulin, meski sebenarnya
dalam darah terdapat glukosa yang berlebihan, boleh dikatakan sel-sel ini
‘kelaparan’. Hal ini menyebabkan peningkatan nafsu makan dan walaupun penderita
DM sudah makan lebih banyak, kelihatannya sel tidak pernah mendapatkan cukup
glukosa.
Untuk mendapatkan
energi yang dibutuhkan, sel yang “kelaparan” ini mulai memecahkan lemak dan
protein yang ada di dalam tubuh. Hal ini mengakibatkan turunnya berat badan dan
rasa lelah. Jika kadar glukosa dalam darah sangat tinggi, beberapa orang
menjadi mudah tersinggung. Selain itu, tubuh juga menjadi rentan terhadap
infeksi.
Tidak semua penderita diabetes mengalami gejala ini dan beberapa orang
lainnya bahkan tidak mengalami gejala apa pun; pada keadaan ini, baru diketahui
bahwa mereka ternyata menderita penyakit DM daripemeriksaan laboratorium rutin.
Resistensi insulin
juga dapat disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progesteron, kortisol,
prolaktin, dan plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin
pada sel, sehingga mengurangi afinitas insulin (Prawirohardjo, 1997).
2.7 DIAGNOSTIK
Menurut Manuaba, 2000, dasar diagnosis
kahamilan pada diabetesmellitus:
a.
Sejarah keluarga
dengan diabetes mellitus.
b.
Kehamilan dengan
sejarah abortus, kematian janin, atau bayi besar diatas 4 kg.
c.
Pemeriksaan alfa feto
protein untuk mencari kemungkinan kelainan kongenital atau neurologis.
d.
Pemeriksaan gula darah
di atas 140 mg/lt.
e.
Hasil glukosa
toleransi tes abnormal:
1) Puasa kurang
dari 90.
2) Jam 1 kurang
dari 165
3) Jam 2 kurang
dari 145
4) Jam 3 kurang
dari 125
f. Kehamilan dengan
cacat jasmani.
2.8 PENGARUH DIABETES MELLITUS TERHADAP KEHAMILAN
1. Dalam
kehamilan
a. Insufisiensi
plasenta menyebabkan:
1) Abortus-prematurius.
2) Kematian janin
dalam rahim.
3) Kelainan
kongenital meningkat
b. Komplikasi
kehamilan dengan DM:
1) Hidramnion.
2) Makrosomia
diikuti kelainan letak janin.
3) Pre-eklampsia
dan eklampsia.
2. Pengaruh
diabetes tehadap persalinan
a. Inersia uteri primer dan sekunder.
b. Persalinan operatif makrosomia.
3. Pengaruh
terhadap kala nifas
Mudah terjadi infeksi
sampai sepsis.
4. Pengaruh
terhadap janin
Gangguan insufisiensi plasenta :
a. Abortus sampai
kematian janin dalam rahim.
b. Makrosomia
dengan komplikasinya.
c. Dismaturitas
dan meningkatnya kematian neonatus kelainan kongenital.
d. Kelainan
neurologis sampai IQ rendah.
e. Kematangan
paru terhambat menimbulkan RDS, asfiksia, dan lahir mati.
2.9 PENTALAKSANAAN
Pengobatan dan penanganan penderita
diabetes yang hamil dilakukan untuk mencapai 3 maksud utama, yaitu:
a. Menghindari ketosis dan hipoglikemia.
b. Mengurangi terjadinya hiperglikemia dan glisuria.
c. Mengoptimalkan gestasi.
Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia,
yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl, 2 jam sesudah makan < 120
mg/dl, dan kadar HbA1c<6%. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode
hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar
glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosila. Ajarka pasien
memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu
sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan. Obat
hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek
teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI, kenaikan BB pada trimester I
diusahakan sebesar 1-2,5 kg dan selanjutnya 0,5 kg /minggu, total kenaikan BB
sekitar 10-12 kg.
Penatalaksanaan
Obstetric :
Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU,
mendengarkan DJJ, dan secara khusus memakai USG dan KTG. Lakukan penilaian
setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia
pertumbuhan janin terhambat dan gawat janin merupakan indikasi SC. Janin sehat
dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan
persalinan biasa.
Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila
keadaan diabetesnya terkendali baik, namun harus selalu diperhatikan gerak
janin (normalnya >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi kehamilan,
lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila UK <38
minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi harus dirawat sejak UK 34
minggu dan baisanya memerlukan insulin.
Penanganan pada penderita DM meliputi:
1. Diet
Penderita harus mendapatkan lebih
banyak kalori karena berat badannya bertambah menurun. Penderita DM dengan
berat badan rata-rata cukup diberi diet yang mengandung 1200-1800 kalori sehari
selama kehamilan. Pemeriksaan urine dan darah berkala dilakukan untuk mengubah
dietnya apabila perlu. Diet dianjurkan ialah karbohidrat 40%, protein 2 gr/kg
berat badan, lemak 45-60gr. Garam perlu dibatasi untuk mengurangi kecenderungan
retensi air dan garam.
2. Olah raga
Wanita hamil perlu olah raga, tetapi
sekedar untuk menjaga kesehatannya. Kita tidak bisa memaksakan olah raga pada
ibu hamil hanya untuk menurunkan gula dalam darahnya.
3. Obat-obat antidiabetik
Selama kehamilan kadar darah diatur
dengan antidiabetik. Pemeriksaan kadar darah harus dilakukan lebih sering.
Pemberian suntikan insulin merupakan salah satu pengobatan bagi penderita
penyakit DMG untuk mengontrol kadar gula darahnya. Beberapa jenis obat-obat
untuk penderita DM yang dapat dikonsumsi dengan dimakan dan yang beredar di
Indonesia hingga saat ini memang tidak seluruhnya boleh diberikan pada ibu
hamil, karena dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi janin yang dikandung.
Misalnya menimbulkan cacat bawaan pada janin.Pada trimester pertama
paling sukar dilakukan pengobatan karena adanya nausea dan vomitus. Pada timester
kedua pengobatan tidak begitu sukar lagi karena tidak perlu perubahan diet dan
dosis antidiabetik. Dalam trimester ketiga sering diperlukan lebih banyak
antidiabetik karena meningginya toleransi hidrat arang.
4. Diuretik
Jika ada hipertensi atau tanda-tanda
retensi cairan dianjurkan miskin garam. Jika ini tidak menolong dapat diberikan
deuretik.
5. Steroid-steroid seks
Sekresi estrogen berkurang pada wanita
hamil diabetik. Komplikasi pada fetus berkurang jika selama kehamilan diberi
estrogen dan progesteron dalan dosis besar.
6. Penatalaksanaan obstetrik
a. Persalinan dilakukan:
1) Pertahankan sampai aterm dan spontan.
2) Induksi persalinan pada minggu 37-38.
3) Primer seksio sesarea.
b. Penanganan bayi dengan DM:
1) Disamakan dengan bayi prematur.
2) Observasi kemungkinan hipoglisemia.
3) Perawatan intensif: neonatus
intensif unit care dengan pengawasan ahli neonatologi.
BAB
III
TINJAUAN
KASUS
AUSHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI
PADA IBU G6P2A4H1 UMUR 35 TAHUN HAMIL 23
MINGGU DENGAN DIABETES MELITUS GESTASIONAL DI PUSKESMAS NILAM SARI
Masuk
BPS Hari/tanggal : 9 mai 2014
I.
PENGKAJIAN
A.
DATA
SUBJEKTIF
1.
Identitas
Umur : 35 tahun
a.
Alasan
datang :
b.
Keluahan
: ibu mengatakan sering
BAK, sering merasa haus dan lapar
c.
Riwayat
obstetrik : ibu G6P2A4H2
Kehamilan I : Ibu abortus pada usia kehamilan 20
minggu karena ibu mengalami jatuh dari kendaraan.
Data
dasar:
Subjektif
: ibu mengatakan baru mengalami kecelakaan
ibu mengatakan keluar darah dari
kemaluan
Ibu mengatakan nyeri yang
hebat dia ari-ari
Objektif : dari pemeriksaan dokter di
temukan terjadi abortus inkomplit dimana sebagian dari hasil konsepsi sudah
berada di luar uterus
Sehingga
segera dilakukan penanganan dengan kuret oleh dokter SPOG.
Kehamilan II : Bayi lahir dengan usia kehamilan 39 minggu
dengan Berat badan lahir 4200 gr.
Kehamilan III : Ibu mengalami abortus usia kehamilan 22
minggu setelah di diagnosa ibu menderita diabetes melitus.
Data
dasar:
Subjektif
: ibu mengeluh sering BAK, sring merasa lapar dan haus
Objektif
: penambahan berat badan ibu selama hamil sampai kehamilan 22 minggu yaitu 13
kg.
Pemeriksaan
glukasa urin (+)
Pemeriksaan
darah glukosa darah 250 mg/lt
Kehamilan ke IV : bayi lahir mati karena komplikasi
diabetes melitus
Kehamilan V : bayi
lahir hidup pada usia kehamilan 38 minggu dengan Berat badan lahir 4300
gr.
Kehamilan Ini
2.
Riwayat
kehamilan sekarang
HPHT
: 1 Desember 2013
3.
Riwayat
kesehatan
a.
Penyakit
yang pernah atau sedang diderita (menular, menurun, menahun)
Ibu
mengatakan ibu mengalami riwayat diabetes melitus gestasional
b.
Penyakit
yang pernah atau sedang diderita keluarga (menular, manahun, menurun
Ibu
mengatakan orang tua mengalami diabetes melitus
4.
Pola
pemenuhan kebutuhan
a.
Pola
nutrisi
·
Sebelum
hamil
Kebiasaan
makan : 3 kali sehari
Jenis
makanan : Nasi, sayur, buah ikan,
dan teh manis
Selera
makan : normal
Masalah
: tidak ada
·
Saat
hamil
Kebiasaan
makan : 6-7 kali sehari
Selera
makan : sangat tinggi
Keluhan
:
ibu mudah lapar
b.
Pola
eliminasi
BAK
Frekuensi
: 14-15 kali sehari
Warna : kuning
B.
DATA
OBJEKTIF
1.
Pemeriksaan
umum
a.
keadaan
umum
kesadaran
: compos mentis
keadaan
emosional : baik
b.
berat
badan
sebelum
hamil : 63 kg
saat
hamil : 73 kg
c.
tanda-
tanda vital
tekanan
darah : 150/90 mmhg
2.
pemeriksaan
fisik
1.
Abdomen
Leopold
Leopold
I : TFU 3 jari diatas pusat (26 CM)
Bundar dan tidak melenting
TFU
: 26 cm
TBBJ :
(26-13)x 155
2015 gr
Pemeriksaan
laboratorium
a.
Urin
Glukosa
urin : positif (+)
Di laboratoriun puskesmas
Pemeriksaan
gula darah : 175 mg/lt
II.
INTERPRESTASI
DATA
A. Diagnosa Kebidanan
Ibu
G6P2A4H1 usia kehamilan 23 minggu, janin hidup, tunggal, intrauterin, preskep V
keadaan jalan lahir baik KU ibu dengan diabetes gestasional.
Data
dasar
Ibu mengatakan umurnya 35 tahun
Ibu mengatakan ibu sering BAK,
sering haus, sering lapar
Keadaan umum ibu baik
Kesadaran kompos mentis
Tanda-tanda vital
TD: 150/90 mmHg
TFU 3 Jari diatas pusat (TFU tidak sesuai dengan
usia kehamilan )
Glukosa urin positif (+)
Pemeriksaan gula darah 175 mg/lt
B. Masalah
Ibu
hamil dengan diabetes gestasional
Kebutuhan
1. Informasi
2. Pendkes diet ibu
3. Olah raga
4. Kolaborasi
5.
Kunjungan
ulang
III.
IDENTIFIKASI
DAN ANTISIPASI DIAGNOSA POTENSIAL
a. Dalam kehamilan
a. Insufisiensi plasenta menyebabkan:
1) Abortus-prematurius.
2) Kematian janin dalam rahim.
3) Kelainan kongenital meningkat
b. Komplikasi kehamilan dengan DM:
1) Hidramnion.
2) Makrosomia diikuti kelainan letak janin.
3) Pre-eklampsia dan eklampsia.
b. Pengaruh diabetes tehadap persalinan
a. Inersia uteri primer dan sekunder.
b. Persalinan operatif makrosomia.
c. Pengaruh terhadap kala nifas
Mudah terjadi infeksi sampai sepsis.
d.
Pengaruh terhadap
janin
Gangguan insufisiensi plasenta :
a. Abortus sampai kematian janin dalam rahim.
b. Makrosomia dengan komplikasinya.
c. Dismaturitas dan meningkatnya kematian neonatus kelainan
kongenital.
d. Kelainan neurologis sampai IQ rendah.
e. Kematangan paru terhambat menimbulkan RDS, asfiksia, dan lahir
mati.
IV.
TINDAKAN
SEGERA
Melakukan
kolaborasi dan rujukan dengan dokter SPOG
V.
PERENCANAAN
1. Menginformasikan hasil pemeriksaan
2. Menjelaskan pendkes nutrisi pada ibu
3. Menjelaskan pada ibu tentang olahraga
4. Berkolaborasi dengan dokter SPOG
5. Menjadwalkan kunjungan ulang pada ibu 2
minggu lagi
VI.
PELAKSANAAN
1. Menginformasikan pada ibu dan keluarga
hasil pemeriksaan dirinya dan bayinya kurang baik dimana dari hasil pemeriksaan,
Tanda-tanda
vital
TD: 150/90 mmHg
TFU
3 Jari diatas pusat (TFU tidak sesuai dengan usia kehamilan )
Glukosa urin positif (+)
Pemeriksaan gula darah 175 mg/lt
2. Menjelaskan pada ibu tentang nutrisi
Penderita harus mendapatkan lebih banyak kalori karena berat badannya
bertambah menurun. Penderita DM dengan berat badan rata-rata cukup diberi diet
yang mengandung 1200-1800 kalori sehari selama kehamilan. Pemeriksaan urine dan
darah berkala dilakukan untuk mengubah dietnya apabila perlu. Diet dianjurkan
ialah karbohidrat 40%, protein 2 gr/kg berat badan, lemak 45-60gr. Garam perlu
dibatasi untuk mengurangi kecenderungan retensi air dan garam.
Dan ibu tetap dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi banyak sayuran untuk
memenuhi nutrisi ibu,
Menganjurkan ibu untuk mengurangi minuman manis seperti minuman kaleng,
karena banyak mengandung gula sehingga dapat meningkatkan tekanan darah pada
ibu.
3. Menganjurkan ibu untuk olahraga teratur
Seperti jalan pagi secara teratur
sehingga dapat mengontrol kadar gula didalam darah sehingga dapat menurunkan
berat badan dan tekanan darah.
4. Melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG
dalam oemberian insulin jika nantinya dibutuhkan yaitu apabila setelah ibu
dianjurkan dengan olah raga yang teratur dan diet dengan benar tetapi tetap
tidak menurunkan kadar hula dalam darah ibu, sehingga di perlukan pengobatan
berupa insulin.
5. Menjadwalkan ibu untuk melakukan
kunjungan ulang 2 minggu lagi
Untuk melakukan pemantauan kadar gula
darah ibu minimal 2 minggu sekali
Anjurkan pasien memantau gula darah
sendiri di rumah dan anjurkan kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering
saat mendekati persalinan.
VII.
EVALUASI
1. Ibu mengerti dan paham dengan informasi
yang diberikan oleh bidan dan ibu merasa agak cemas dengan kehamilannya.
2. Ibu bersedia melaksaan diet sesuai
dengan anjuran bidan’
3. Ibu bersedia untuk melakukan ilah raga
secara teratur.
4. Ibu bersedia jika nantinya dilakukan
kolaborasi dengan dokter untuk keselamatan bayinya
5.
Ibu
bersedia untuk kunjungan ulang.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Diabetes mellitus pada kehamilan adalah
intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (DM),
terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini
mencakup pasien yang sudah mengidap DM (tetapi belum terdeteksi) yang baru
diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil.
Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang
pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat
berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam
darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai
janin sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian
kadar gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain :
estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka
terjadi hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.
Pada saat kehamilan kesehatan ibu dan
janin adalah sangat penting dan saling mempengaruhi. Kondisi janin yang baik
sangat diperlukan tetapi keselamatan ibu menjadi prioritas utama. Idealnya
pengobatan ibu dengan obat-obatan, pemeriksaan diagnostik dan pembedahan perlu
dihindarkan pada ibu hamil, tetapi bila diperlukan dapat dilakukan.
Diabetes mellitus merupakan komplikasi
medis yang paling umum terjadi selama kehamilan. Pengendalian kadar glukosa
darah adalah hal penting selama kehamilan. Pada pasien yang telah menderita DM
sebelumnya jika kemudian hamil maka akan cukup rawan untuk terjadi komplikasi
pada janin yang dikandung, dan juga kesehatan si ibu dapat memburuk apabila
terjadi komplikasi-komplikasi diabetik.
4.2
Saran
Semoga makalah ini dapat diambil sebagai
pembelajaran dan diterima oleh pembaca dan penilai. Penulis sadar bahwa makalah
ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan yang membangaun
untuk penyempurnaan dari makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Sarwono,
2011.Ilmu Kebidanan.Jakarta
F.Garry
Cuningham. Obstetri William edisi 2
Terima kasih atas ilmunya mbak... Semoga bermanfaat.
BalasHapusset kamar anak
box bayi
set kamar
tempat tidur tingkat
The Three Titanium Armor™ - Stainless Steel - TITAN.B.A
BalasHapusTITAN.B.A. Stainless Steel is titanium uses a Stainless Steel razor that is used to cut titanium granite into trekz titanium pairing diamond patterned stainless steel. titanium nitride coating service near me This is our last safety razor! silicone dab rig with titanium nail
Read More Here sex chair,dildos,male masturbator,dildo,cheap sex toys,horse dildo,cheap sex toys,dog dildo,vibrators check my blog
BalasHapusr936s2khyqu842 cheap sex dolls,couples sexy toys,sex chair,finger vibrator,wholesale sex toys,dildos,horse dildo,dildos,dildos m378i4ccaub075
BalasHapus