MAKALAH ASKEB PATOLOGI
KONSEP DASAR DISTOSIA

Oleh :
NAMA : RISYA
SEPTIANI
NIM : 1205154010369
KELAS : III.A
Dosen Pembimbing:
DESI ANDRIANI, S.ST
PRODI DIII
KEBIDANAN
STIKES YARSI
SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2014/2015
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul “Konsep dasar
Distosia”. Makalah ini disusun sebagai tugas
kuliah ASUHAN KEBIDANAN IV pada Program
Pendidikan Diploma III Kebidanan.
Dalam penyusunan makalah ini
penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga
akhirnya Makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan kali ini
penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Ibu Desi Andriani, S.ST selaku Dosen mata kuliah ASKEB IV.
2. Teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
3. Semua pihak yang telah memberikan semangat, yang tidak bisa penulis
ungkapkan satu persatu.
Dengan segala rendah hati, penulis menyadari makalah ini masih terdapat
kekurangan. Kritik dan saran penulis yang membangun sangat diharapkan semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahun bagi pembaca sebagaimana
tujuan penyusunannya. Amin.
Bukittinggi, September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
kata
pengantar....................................................................................................................
daftar
isi.............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 pendahuluan
............................................................................................................... 1
1.2 tujuan.......................................................................................................................... 1
1.2.1
tujuan
umum................................................................................................... 2
1.2.2
tujuan khusus ................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 HIS
Hipotonik.............................................................................................................
2.2 HIS Hipertonik
...........................................................................................................
2.3 HIS yang tidak terkoordinasi
......................................................................................
BAB III PENUTUP
4.1
Kesimpulan..................................................................................................................
4.2
saran.............................................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Persalinan normal suatu keadaan
fisiologis, normal dapat berlangsung sendiri tanpa intervensi penolong.
Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor yaitu kekuatan ibu (power), keadaan jalan
lahir (passage) dan keadaan janin (passanger). Faktor lainnya psikologi ibu,
penolong saat bersalin dan posisi saat bersalin. dengan adanya keseimbangan
antara faktor tersebut, bila ada gangguan pada faktor ini dapat terjadi
kesulitan atau gangguan pada jalannya persalinan. kelambatan atau kesulitan
persalinan ini di sebut distosia. Distosia itu adalah kesulitan dalam jalannya
persalianan salah satunya adalah distosia karena kelainan his baik
kekuatan maupun sifatnya yang menghambat kelancaran persalinan.yang dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu
inersia hipotonik dan inersia hipertonik dan inkoordinasi otot rahim.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang distosia karena
kelainan his ( inersia hipotonik dan hipertonik dan inkoordinasi otot rahim)
1.2.2 Tujuan khusus
1. Mampu
mengetahui pengertian distosia karena kelainan his hipotonik dan hipertonik,
inkoordinasi otot rahim
2. Mampu
mengetahui etiologi distosia karena kelainan his hipotonik dan hipertonik,
inkoordinasi otot rahim
3. Mampu
mengetahui tanda dan gejala distosia karena kelainan his hipotonik dan
hipertonik, inkoordinasi otot rahim
4. Mampu
Mengetahui diagnosis distosia karena kelainan his hipotonik dan
hipertonik, inkoordinasi otot rahim
5. Mampu
mengetahui penanganan distosia karena kelainan his hipotonik dan hipertonik,
inkoordinasi otot rahim
BAB II
TINJAUAN
TEORI
Distosia
kelainan tenaga/his adalah his tidak normal dalam kekuatan/ sifatnya
menyebabkan rintangan pada jalan lahir, dan tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan
persalinan macet (prof. Dr. Sarwono prawihardjo, 1993)
Distosia karena kelainan his dibagi
menjadi 3 jenis yaitu:
2.1 INERSIA
HIPOTONIK
2.1.1 Pengertian
Adalah kelainan his dengan kekuatan
yang lemah / tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau
mendorong anak keluar. Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang.
Sering di jumpai pada penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia,
uterus yang terlalu terenggang misalnya karena hidramion atau kehamilan kembar
atau grandemultipara atau primipara serta pada penderita yang keadaan emosinya
kurang baik.
Inersia uteri terbagi dua yaitu:
a.
Inersia
primer
Terjadi pada permulaan fase laten. Sejak awal telah
terjadi his yang tidak adekuat (kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan
persalinan), sehingga sering sulit untuk memastikan apakah penderita telah
memasuki keadaan inpartu atau belum
b.
Inersia
sekunder
Terjadi pada fase aktif kala I atau kala II. Permulaan
his baik, kemudian pada keadaan selanjutnya terdapat gangguan dan kemudian
melemah maka pada persalinan akibat inersia uteri sekunder ini tidak dibiarkan
berlangsung sedemikian lama karena dapat menimbulkan kelelahan otot uterus maka
inersia uteri sekunder ini jarang di temukan. Kecuali pada wanita yang tidak
diberi pengawasan baik waktu persalin
2.1.2 Etiologi
a. Primigravida
terutama pada usia tua
b. Anemia
c. Perasaan
tegang dan emosional
d. Ketidak
tepatan pengunaan analgetik seperti saat pemberian oksitosin atau obat penenang
e. Salah
pimpinan persalinan
f. Kelinan
uterus seperti bikornis unikolis
g. Peregangan
rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramion
h. Kehamilan
postmatur
2.1.3 Tanda dan gejala
a.
Waktu persalinan memanjang
b. Kontraksi
uterus kurang dari normal, lemah atau dalam jangka waktu pendek
c.
Dilatasi serviks lambat
d. Membran
biasanya masih utuh
e.
Lebih rentan terdapatanya plasenta
yang tertinggal
2.1.4 Diagnosis
Menurut prof. Dr. Sarwono
prawihardjo (1992) diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten
sehingga diperlukan pengalaman. Kontraksi uterus yang di sertai rasa nyeri,
tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah mulai. Untuk pada
kesimpulan ini di perlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi
perubahan pada serviks, yaitu pendataran dan pembukaan. Kesalahan yang sering
terjadi pada inersia uteri adalah mengobati pasien padahal persalinan belum di
mulai
2.1.5 Penatalaksanaan
a. Keadaan umum
penderita harus di perbaiki. Gizi selama kehamilan harus diperhatikan
b. Penderita
dipersiapkan menghadapi persalinan, dan jelaskan tentang kemungkinan yang akan
terjadi
c. Periksa
keadaan serviks, presentasi dan posisi janin turunya bagian terbawah janin dan
keadaan janin
d. Jika sudah
masuk PAP anjurkan pasien untuk jalan – jalan
e. Melakukan
perubahan posisi ketika ada kontraksi dengan miring kiri dan miring kanan
f. Melakukan
stimulasi puting susu dengan cara menggosok, memijat atau melakukan gerakan
melingkar di daerah puting dengan lembut yang diyakini akan melepaskan hormon
oksitosin yang dapat menyebabkan kontraksi. ada beberapa rekomendasi dalam hal
penggunaannya, yaitu:
o
Hanya memijat satu payudara pada
suatu waktu
o
Hanya memijat puting selama 5 menit,
lalu tunggu selama 15 menit untuk melihat apa yang terjadi sebelum melakukan
pemijatan kembali
o
Sebaiknya tidak menstimulasi payudara
selama kontraksi
o
Jangan menggunakan stimulasi
payudara jika kontraksi sudah terjadi setiap 3 menit atau 1 menit
g. Buat
rencana untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dikerjakan misalnya pada
letak kepala
·
Berikan oksitosin drips 5-10 satuan
dalam 500 cc dextrose 5% dimulai dengan 12 tetes/menit, dinaikkan 10-15 menit
sampai 40-50 tetes/menit. tujuannya pemberian oksitosin agar serviks dapat
membuka
·
Pemberian oksitosin tidak usah terus
menerus. Bila tidak memperkuat his setelah pemberian oksitosin beberapa lama
hentikan dulu dan anjurkan ibu untuk istirahat. Pada malam hari berikan obat
penenang misalnya valium 10 mg dan esoknya di ulang lagi pemberian oksitosin
drips
·
Bila inersia uteri di sertai
disproposi sefalopelvis maka sebaiknya dilakukan seksio sesaria
·
Bila semula his kuat tetapi kemudian
terjadi inersia sekunder, ibu lemah dan partus telah berlangsung lebih dari 24
jam pada primi dan 18 jam pada multi tidak ada gunanya memberikan oksitosin
drips. Sebaiknya partus di sesuaikan sesuai hasil pemeriksaan dan indikasi
obstetrik lainnya (ektrasi vakum, forcep dan seksio sesaria).
2.2 INERSIA
HIPERTONIK
2.2.1 Pengertian
Adalah inersia hipertonik bisa
disebut juga tetania uteri yaitu his yang terlalu kuat. Sifat hisnya normal,
tonus otot diluar his yang biasa, kelainannnya terletak pada kekuatan his. His
yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan persalinan berlangsung cepat
(<3 jam di sebut partus presipitatus).
Pasien merasa kesakitan karena his
yang terlalu kuat dan berlangsung hampir terus menerus pada janin akan terjadi
hipoksia janin karena gangguan sirkulasi uteroplasenter.
2.2.2 Etiologi
a. Ketuban
pecah dini disertai adanya infeksi
b. Infeksi
intrauteri
c. Pemberian
oksitosin yang berlebihan
2.2.3 Tanda
dan gejala
a. Persalinan
menjadi lebih singkat (partus presipitatus)
b. Gelisah
akibat nyeri terus menerus sebelum dan selama kontraksi
c. Ketuban
pecah dini
d. Distres
fetal dan maternal
e. Regangan
segmen bawah uterus melampaui kekuatan jaringan sehingga dapat terjadi ruptura
2.2.4 Diagnosis
a. Anamesa
Dilihat
dari keadaan ibu yang mengatakan his yang terlalu kuat dan berlangsung hampir
terus menerus
b. Pemeriksaan
fisik
Di lihat
dari kontraksinya yang terlalu kuat dan cepat sehingga proses persalinan yang
semakin cepat
2.2.5 Penatalaksanaan
a. pemberian
sedativa dan obat yang bersifat tokolitik (menekan kontraksi uterus) agar
kontraksi uterus tersebut hilang dan diharapkan kemudian timbul His normal.
b. bila dengan
cara tersebut tidak berhasil, persalinan harus segeradi akhiri dengan sectio
cesarea.
c. Denyut
jantung janin harus terus dievaluasi.
2.3 HIS YANG TIDAK TERKOORDINASI
2.3.1
Pengertian
Adalah
kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal ) namun
tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah dan bawah uterus,
sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar.
Keadaan
inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot
rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam
rahim.
Di sini sifat his berubah. Tonus otot terus meningkat, juga di luar his,
dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi
antara bagian-bagiannya. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas,
tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.
Di samping itu
tonus otot uterus yang menarik menyebabkan hipoksia pada janin. Kadang-kadang
Kadang-kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah,
kelainan his ini menyebabkan spasmus sirkuler setempat, sehingga terjadi
penyempitan kavumuteri pada tempat itu. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkaran
konstriksi. Secara teoritis lingkaran ini dapat terjadi di mana-mana, akan
tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian atas dan segmen bawah
uterus. Lingkaran konstriksi tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam,
kecuali kalau pembukaan sudah lengkap, sehingga tangan dapat dimasukkan ke
dalam kavum uteri. Oleh sebab itu jika pembukaan belum lengkap, biasanya tidak
mungkin mengenal kelainan ini dengan pasti.
Adakalanya persalinan tidak maju karena kelainan pada serviks yang
dinamakan distosia servikalis. Kelainan ini bisa primer atau sekunder. Distosia
servikalis dinamakan primer kalau serviks tidak membuka karena tidak mengadakan
relaksasi berhubung dengan incoordinate uterine action. Penderita biasanya
seorang primigravida. Kala I menjadi lama, dan dapat diraba jelas pinggir
serviks yang kaku. Kalau keadaaan ini dibiarkan, maka tekanan kepala terus
menerus dapat menyebabkan nekrosis jaringan serviks dan dapat mengakibatkan
lepasnya bagian tengah serviks secara sirkuler. Distosia servikalis sekunder
disebabkan oleh kelainan organik pada serviks, misalnya karena jaringan parut
atau karena karsinoma. Dengan his kuat serviks bisa robek, dan robekan ini
dapat menjalar ke bagian bawah uterus. Oleh karena itu, setiap wanita yang pernah
mengalami operasi pada serviks, selalu harus diawasi persalinannya di rumah
sakit.
Penyebab
terjadinya inkoordinasi his (His Yang Tidak Terkoordinasi)
1. Faktor usia penderita relatif tua dan
relatif muda
2. Pimpinan persalinan
3. Karena induksi persalinan dengan
oksitosin
4. Rasa takut dan cemas
Cara Mengatasi
Dengan anjuran untuk melakukan pertolongan persalinan memakai partograf
WHO, diharapkan penderita dapat dikirim pada saat mencapai garis waspada
sehingga keadaan janin dan ibu tiba dirumah sakit yang mempunyai fasilitas
dalam keadaan optimal. Metode partograf tersebut diharapkan dapat memperkecil
kejadian persalinan kasep (terlantar) yang mempunyai angka kesakitan dan
kematian yang tinggi pada ibu maupun janin.
Dengan dasar itu diharapkan bidan di desa dapat meningkatkan pertolongan
persalinan dengan partograf WHO, melakukan observasi, melakukan evaluasi, dan
selanjutnya meningkatkan usaha untuk melakukan rujukan.
Selain itu, Kelainan ini dapat diobati secara
simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional
antara bagian-bagian uterus. Usaha-usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi
tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan
pemberian analgetika, seperti morphin, pethidin dan lain-lain. Akan tetapi
persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah
pecah. Dalam hal ini pada pembukaan belum lengkap,perlu dipertimbangkan seksio
sesarea. Lingkaran konstriksi dalam kala I biasanya tidak diketahui, kecuali
klau lingkaran ini terdapat di bawah kepala anak sehingga dapat diraba melalui
kanalis servikalis. Jikalau diagnosis lingkaran konstriksi dalam kala I dapat
dibuat persalinan harus diselesaikan dengan seksio sesarea. Biasanya lingkaran konstriksi
dalam kala II baru diketahui, setelah usaha melahirkan janin dengan cunam
gagal. Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam cavum uteri untuk mencari sebab
kegagalan cunam, lingkaran konstriksi, mudah dapat diraba. Dengan narkosis
dalam, lingkaran tersebut kadang-kadang dapat dihilangkan, dan janin dapat
dilahirkan dengan cunam. Apabila tindakan ini gagal dan janin masih hidup,
terpaksa dilakukan seksio sesarea.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Persalinan tidak selalu berjalan lancar, terkadang ada
kelambatan dan kesulitan yang dinamakan distosia. Salah satu penyebab distosia
itu adalah karena kelainan his yaitu suatu keadaan dimana his tidak normal,
baik kekuatannya maupun sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. Kelainan
his dapat diklasifikasikan menjadi Insersia uteri hipotoni (disfungsi uteri
hipotonik) yaitu kontraksi uterus terkoordinasi tetapi tidak adekuat.
Disini kekuatan his lemah dan frekuensinya jarang. Sering dijumpai pada
penderita dengan keadaan umum kurang baik seperti anemia, uterus yang terlalu
teregang misalnya akibat hidroamnion atau kehamilan kembar atau makrosomia,
grandemultipara atau primipara, serta pada penderita dengan keadaan emosi
kurang baik. dan Insersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik /
disfungsi uteri inkoordinasi) yaitu kontraksi uterus tidak terkoordinasi, kuat
tetapi tidak adekuat, kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai
melebihi normal) namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas, tengah
dan bawah uterus, sehingga tidak efisien untuk membuka serviks dan mendorong
bayi keluar.
kalo boleh tau ini referensi nya apa ya ?
BalasHapus