Sabtu, 20 September 2014

MAKALAH ASKEB IV
Teknologi Reproduksi Baru



Oleh :
NAMA : RISYA SEPTIANI
NIM   : 1205154010369
KELAS : III.A




Dosen Pembimbing:
Diana Putri, S. Keb Bd






PRODI DIII KEBIDANAN
STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2014/2015

KATA PENGANTAR


Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “ASKEB IV” ini dengan sukses dan lancar. Adapun tujuan pembuatan makalah yang berjudul “Teknologi Reproduksi Baru”
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Dan kami mohon kritik dan saran dari pembaca untuk lebih menyempurnakan malakah ini. Kami  juga meminta maaf apabila ada yang khilaf baik dalam pengetikan maupun penyusunan dari makalah ini.
Semoga makalah Teknologi Reproduksi Baru ini dapat bermamfaat bagi kita semua.




Bukittinggi, september  2014


                                                                                       penulis







DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.....................................................................    i
DAFTAR ISI...............................................................................    ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang......................................................................    1
1.2 Rumusan masalah.................................................................     2
1.3 Tujuan..................................................................................    2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 intra uterine insemination (IUI)....................................... 3
2.2 IVF (InVitro Fertilization)................................................ 6
2.3 ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)……………...........   12
2.4 kelemahan dan keuntungan  inseminasi buatan................   13
Lampiran
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................   ................................      15

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Sekarang ini sudah muncul berbagai kecanggihan yang dapat di gunakan untuk mengatasi kendala-kendala kehidupan..Salah satunya adalah kesulitan mempunyai anak dengan berbagai faktor.Tetapi terkadang kecanggihan teknologi mempengaruhi etika-etika terhadap islam. Kemungkinan kehamilan dipengaruhi oleh usia anda dan kadar FSH basal. Secara umum, makin muda usia makin baik hasilnya. Kemungkinan terjadinya kehamilan juga tergantung pada jumlah embrio yang dipindahkan. Walaupun makin banyak jumlah embrio yang dipindahkan akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan, tapi kemungkinan terjadinya kehamilan multipel dengan masalah yang berhubungan dengan kelahiran prematur juga lebih besar.
Program bayi tabung untuk pertama kali diperkenalkan oleh  dokter asal Inggris,  Patrick C. Steptoe dan Robert G. Edwards pada sekitar tahun 1970-an dan melahirkan  bayi tabung pertama di dunia, Louise Brown pada tahun 1978.  Pada awalnya, teknologi ini ditentang oleh kalangan kedokteran dan agama karena kedua dokter itu dianggap mengambil alih peran Tuhan dalam menciptakan manusia (playing God). Tapi sekarang, teknologi ini telah banyak menolong pasangan suami istri yang ingin mempunyai anak yang megalami masalah seperti infertilitas, dsb.
Infertilitas adalah suatu kondisi dimana pasangan suami-istri belum mampu memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2-3 kali seminggu dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.  Menurut WHO dari seluruh dunia sekitar 50-80 juta pasangan suami istri mempunyai masalah dengan infertilitasnya, dan diperkirakan sekitar dua juta pasangan infertil baru akan muncul tiap tahunnya dan terus meningkat.
Tulisan tentang Teknologi Reproduksi Berbantu adalah penanganan terhadap gamet (ovum, sperma), atau embrio (konsepsi) sebagai upaya untuk mendapatkan kehamilan diluar cara alami, tidak termasuk tindakan kloning atau duplikasi manusia
Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan modern dan teknologi kedokteran dan biologi yang canggih,maka teknologi Reproduksi Berbantu maju dengan pesat. Dengan teknologi yang ada saat ini, tidak semua pasangan yang mengikuti program ini akan menjadi hami. Dilain pihak banyak pasangan-pasangan yang tidak hamil menjadi hamil dngan melalui proses rekayasa ini.
1.2 RUMUSAN MASALAH
  1. INTRA UTERINE INSEMINATION (IUI)
  2. IVF (InVitro Fertilization)
  3. ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)

1.3 TUJUAN
1.3.1 Tujuan umum
Agar  mahasiswa mengetahui dan memahami apa itu Teknologi Reproduksi Berbantu dan jenis-jenis dari TRB tersebut
1.3.2  Tujuan khusus
a.    Mahasiswa dapat mempelajari apa itu intra uterine insemination (iui)
b.    Mahasiswa dapat mempelajari apa itu IVF (InVitro Fertilization)
c.    Mahasiswa dapat mempelajari apa itu ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)





BAB II
TINJAUAN TEORITIS


Teknologi Reproduksi Berbantu adalah penanganan terhadap gamet (ovum, sperma), atau embrio (konsepsi) sebagai upaya untuk mendapatkan kehamilan diluar cara alami, tidak termasuk tindakan kloning atau duplikasi manusia TRB terbagi  atas :

2.1 INTRA UTERINE INSEMINATION (IUI)

2.1.1 Pengertian
Intra uterine insemination (IUI) adalah cara memasukkan sel-sel sperma yang telah di preparasi (pencucian sperma supaya lebih aktif) langsung kedalam rongga rahim dengan suatu kateter pada saat menjelang ovulasi (masa subur).

2.1.2 indikasi dilakukan IUI
a.    Gangguan penyampaian sel-sel sperma kedalam vagina karena kerusakan anatomis pada enis atau vagina, disfungsi seksual pada pria/wanita, atau ejakulasi retrograd (tertahan).
b.    Hasil uji pasca senggama yang buruk yaitu kemampuan sel-sel sperma untuk hidup dan berenang didalam cairan rahim wanita kurang baik.
c.    Gangguan faktor lendir dan leher rahim. Dengan IUI, sperma dikirim langsung ke rahim tampa menyentuh vagina.
d.    Berkurangnya jumlah, bentuk dan gerakan sel-sel sperma (oligoasthenozoospermia) tingkat sedang. Dengan IUI, perjalanan sel sperma melawati organ reproduksi wanita akan terbantu. Namun keberhasilan IUI masih sangat ditentukan olehjumlah jumlah sperma (Idealnya masih di atas 20 juta sperma/ml).
e.    Ganguan hormon seperti gangguan fase luteal atau sindroma LUF dan setelah dicoba dengan pengobatan selama beberapa bulan tidak berhasil.
f.     Endrometriosis minimal.
g.    Infertilitas yang belum diketahiu sebabnya.

2.1.3 Syarat dilakukannya IUI
a.    Pasangan suami istri yang sah dengan usia istri tidak lebih dari 45 tahun. Tapi idealnya usia istri sebaiknya dibawah 35 tahun kemungkinan berhasilnya lebih tinggi.
b.    Tidak ada kontra indikasi untuk hamil.
c.    Reproduksi istri dapat merespon terhadap obat pemicu ovulasi.
d.    Kedua tubafalopi normal.
e.    Bebas dari infeksi TORSH-KM, hepatitis, sifilis,dan HIV/AIDS

2.1.4 Pemeriksaan / Persiapan awal IUI
a.    Anamnesis : data diripasien, riwayat kehamilan, siklus haid 6 bulan terakhir
b.    Pemeriksaan ginekologis
c.    Pemeriksaan USG transvaginal
d.    Pemeriksaan HSG untuk melihat keadaan sel telur dan rahim
e.    Pemeriksaan hormonal untuk melihat FSH, LH, Prolaktin, dan E2. Namun biasanya ini dilakukan pada wanita dengan siklus haid tak teratur, amenorea, dan kurang respon terhadap obat-obat pemicu ovulasi
f.     Trial sonding (sondase rahim) untuk mengetahui arah panjang leher dan rongga rahim
g.    Analisa sperma pada suami (termasuk pemeriksaan antibodi sperma ) untuk melihat apakah memungkinkan dilakukan IUI.
h.    Pada istri diberi obat untuk memicu ovulasi (pemberian tergantung kasus)
i.     Pasangan suami istri normal hanya diberi klomifen sitrat (seropene dll) mulai hari ke 3-5 menstruasi selama 5 hari.
j.     Pasangan suami istri dengan masalah seperti anovulasi atau gangguan hormon diberi HMG atu FSH untuk memicu perkembangan sel telur. Dosis ini umumnya diberikan pada hari ke 5-9.
k.    Pemeriksaan USG vagunal unuk melihat perkembangan volikel
l.     Setelah dilihat dan sel telur ukurannya sudah mencapai minimal 18 mm maka akan diberikan suntikan HCG.
m.  Pada hari perkiraan IUI, suami harus menahan ejakulasi setidaknya 2-3 hari untuk mendapatkan jumlah dan kualitas yang baik pada sperma.
n.    Minimal 2 jam sebelum IUI, cairan sperma sudah diberikan kelaboratorium untuk dipreparasi (dicuci). Disarankan untuk dikeluarkan di klinik infertil ( ada tempat khususnya ). Proses preparasi atau pencucian tersebut dilakukan untuk menghitung konsentrasi, mortilitas, dan morfologi sel sperma. Melalui pencucian jumlah dan kualitas sperma akan sedikit meningkat.
o.    Tahap pelaksanaan yaitu pemasukan sel-sel sperma yang telah di preparasi kerongga rahim 36 jam setelah suntik HCG.

2.1.5 Pelaksanaan
a.    Pasien berbaring di meja periksa khusus ( meja untuk pemeriksaan obstetric dalam ibu hamil).
b.    Pasien tidur dengan posisi pinggang lebih tinggi dari badan dan kepala. Kaki dalam posisi terbuka dan tergantung pada penyangga kiri dan kanan.
c.    Dokter memasukan spekulum kedalam vagina sampai tampak mulut rahim.
d.    Sperma dimasukan melalui kateter ujung kateter dimasukan melalui cervix, canalis servikalis sampai ke kavum uteri secara hati-hati untuk menghindari cidera rongga rahim.
e.    Setelah ujung kateterberada di rongga rahim paling luas sperma disemprotkan dari dalam kateter lalu kateter yang kosong di tarik kembali.
f.     Pasien berbaring dengan posisi sama selama kurang lebih 1 jam. lalu diperbolehkan pulang (sebaiknya tetap dilakukan bedrest)
Tingkat keberhasilan IUI hanya sekitar 10% jika gagal lebih baik tidak diulang lebih dari 1 kali lagi (jadi IUI hanya boleh dilakukan 2 kali) . hal ini didasarkan kepada hasil penelitian bahwa IUI yang dilakukan 3 kali atau lebih akan tetap memberikan kegagalan pada pelaksanaan selanjutnya.

2.2 IVF (InVitro Fertilization)

2.2.1 pengertian
Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer ke rahim istri.
IVF juga merupakan salah satu TRB yang fertilisasinya terjadinya diluar tubuh wanita.

2.2.2 Prosedur pengambilan ovum dan proses pelaksanaannya
yaitu ovum yang sudah di stimulasi sehingga mengahsilkan banyak ovum dari jumlah normalnya melalui obat-obatan tertentu seprti clamifen, ovum yang berhasil diproduksi kemudian dipindahkan dari ovarium dengan memasukan jarum melalui dinding vagina (menggunakan USG sebagai pedoman), lalu ovum tersebut (±3-4 )ovum Dicampur dengan sperma pasangan (±200.000 sperma motil) dalam cawan peti.
Embrio dari hasil fertilisasi dimasukan kedalam uterus. Proses pemasukan 1-2 embrio tersebut dilakukan dengan ±6 hari setelah fertilisasi, dengan menggunakan kateter tipis melalui serviks ke uterus ( biasanya menggunakan USG sebagai panduan). Oleh sebab itu IV F tidak membutuhkan laparaskopi. Embrio yang dimasukan sebelum dilakukan proses pemasukan embrio kedalam uterus wanita tersebut harus diberi progesteron, sehingga endometriumnya menebal dan siap menerima implantasi
2.2.3 IVF dapat dilakukan jika:
a.    terdapat hambatan pada tuba falopi pasangan wanita / malah tidak memiliki tuba valopi sama sekali atau
b.    jika terdapat abnomalitas ringan pada sperma pasangan pria.
c.    pada pasangan infertil yang belum diketahui penyebab dari infertilitasnya.
d.    Serta pasangan yang telah mencoba IUI namun tetap belum berhasil.
Dibandingakan dengan cara TRB lain IVF lebih dahulu ditemukan sehingga lebih banyak penelitian yang dilakukan pada metode IVF ini. Berdasarkan penelitian ini diketahui sebagian besar anak lahir dari proses IVF ini sehat. Namun memiliki riwayat kontak dengan pelayanan kesehatan. (rumah sakit, operasi atu intervensi medis lainnya) lebih banyak dari pada anak yang lahir dengan kondisi alamiah.

2.2.4 syarat-syarat iVf sebagai berikut :
    1. Telah dilakukan pengelolaan infertilitas selengkapnya.
    2. Terdapat indikasi yang sangat jelas.
    3. Memahami seluk beluk prosedur konsepsi buatan secara umum
    4. Mampu membiayai prosedur bayi tabung ini

     2.2.5 Prosedur FIV ( fertilisasi in vitro )
Ada beberapa tahap–tahap pelaksanaan prosedur  FIV (in vitro fertilasasi)  adalah sebagai berikut ;
1.    Pemeriksaan penyaring pasutri dimana disini akan dilakukan melalui peninjauan kembali catatan medis pengelolaan infertilitas, untuk meyakinkan bahwa pengelolaan infertilitas telah dilakukan selengkapnya.       
2.    Pemilihan protocol stimulasi
a.    Tanpa stimulasi : siklus haid normal + hCG ( human chorionic gonadotropin )
b.    Clomiphene Citrat ( CC ) + hCG
c.    hMG ( human Menopausal Gonadotropin ) + hCG
d.    CC + hMG + hCG
e.    FSH ( follicle stimulating hormone ) Murni
f.     +  hCG
g.    + hMG + hCG
h.    + CC + hCG
i.     + hMG + CC + hCG
3.     GnRH ( Gonadotropin releasing hormone ) + Hcg
4.    Stimulasi indung telur yang dijadwalkan
Tujuan stimulasi indung telur adalah untuk menstimulasi perkembangan folikel yang mengandung oosit matang sebanyak mungkin agar mudah diaspirasi pada saat sebelum terjadi ovulasi.
5.    Pemantauan perkembangan folikel
Walaupun sebagian besar tim konsepsi buatan memakai kombinasi pemeriksaan USG, kadar E2 dan LH untuk memantau perkembangan folikel, bahkan dengan pemeriksaan mucus serviks, tetapi belum ada consensus tentang apa yang dianggap stimulasi dan pemantauan folikel yang baik. Kalau tentang stimulasi yang kurang  baik terdapat lebih banyak kesepakatan, seperti kadar E2 yang rendah atau yang kadarnya meningkat lambat, terlampau sedikit folikel yang terbentuk atau hanya terdapat satu folikel yang dominan, turunnya kadar E2 sebelum atau sesudah suntikan hCG, puncak LH yang premature, dan kalau timbul keluhan akibat pengobatan, seperti demam atau gatal-gatal, merupakan indikasi untuk menghentikan stimulasi.
6.    Pengambilan Ovum ( PO )
Pada pertama kalinya dilakukan melalui laparoskopi dengan 2 atau 3 tusukan.  Jarum aspirasi dimasukan melalui alat laparoskop atau melalui tusukan khusus.  Berbagai alat pengisap oosit telah dipakai, sempritan 50 Dan alat pengisap dengan tekanan 150 mmHg.  Kini PO dapat dilakukan lebih mudah secara transvaginal dengan bimbingan USG.
7.    Persiapan dan prosedur laboratorium
Seluruh prosedur laboratorium konsepsi buatan perlu dipersiapkan seoptimal mungkin. laboratorium yang letaknya bersebelahan dengan kamar PO akan memudahkan transportasi embrio. Beberapa hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah air radiator yang digunakan, incubator CO2, laminar air flow, mikroskop, alat habis  pakai, system fertilisasi, dan aliran listrik haruslah dalam keadaan prima.
Cairan pungsi harus segera dibawa ke laboratorium dan pencairan oosit di bawah mikroskop segera dilakukan. Kalau cairan folikel itu jernih, dengan mata telanjang akan tampak mucul sebagai gumpalan putih yang mungkin berisikan oosit. Oosit dibersihkan dari gumpalan darah lalu dimasukkan ke dalam medium biakan dalam cawan petri. Semua oosit yang diperoleh segera dimasukkan kedalam incubator CO2 , setelah terlebih dahulu dinilai tingkat kematangannya. Penilaian tingkat kematangan ini perlu untuk menentukan saat inseminasi yang tepat. Oosit yang matang, antara lain ditandai dengan cumulus yang menyebar dan koronanya padat. Berbagai jenis medium yang akan dipakai, harus terlebih dahulu diuji, Baik parameter fisiknya, (pH, Osmolaritas, Suhu), maupun efek biologiknya (perkembangan embrio tikus percobaan, uji ketahanan sperma).
Saat inseminasi ditentukan menurut tingkat kematangan oosit. Untuk oosit yang matang , inseminasi dilakukan 5-6 jam setelah oosit di inkubasikan, yang terlalu matang setelah 3 jam, dan yang belum matang setelah 24-36 jam. Teknik pengolahan sperma dapat dilakukan dengan berbagai cara dari yang paling sederhana seperti swim-up, sampai yang paling canggih seperti pemisahan sperma dengan berbagai konsentrasi larutan percoll, yang semuanya bertujuan untuk memperoleh sperma motil yang terbaik. Umumnya inseminasi dilakukan dengan sperma yang telah diolah dengan konsentrasi 50.000 – 100.000/ml.
8.    Perkembangan dalam media biakan
Terjadinya fertilisasi dimulai 18-20 jam setelah inseminasi. Fertilisasi yang normal ditandai dengan adanya 2 inti (pronukleus), yang harus dibedakan secara cermat dari fertilisasi yang abnormal (polispermia) yang ditanda idengan adanya lebih dari 2 pronukleus.
9.    Oosit yang sudah dibuahi ( zigot ) dipindahkan kedalam medium segar, kemudian segera di inkubasikan dalam inkubasi CO2, terjadinya fertilisasi tergantung dari banyaknya hal, yang terpenting adalah kualitas dan kuantitas oosit serta sperma. Tingkat fertilisasi 60% dapat dikatakan cukup baik. Kira-kira sekitar 24 jam sekitar inseminasi, oosit yang sudah dibuahi itu dikeluarkan dari incubator yang biasanya sudah mencapai stadium embrio dengan tingkat pembuahan 2-6 sel. dari semua embrio itu dipilih 4 embrio yang terbaik yang ditentukan berdasarkan morfologinya. Embrio yang terpilih kemudian dimasukkan kedalam medium biakan segar dengan suplemen protein
10.  Pemindahan Embrio
Dilakukan 42-44 jam setelah inseminasi, pada waktu embrio telah mencapai stadium 2-6 sel. Pada umumnya PE dilakukan dengan isteri dalam sikap litotomi, didampingi oleh suaminya. Tim yang lain melakukan dalam sikap litotomi kalau seterusnya intervensi dan dalam sikap dengkul-dada kalau uterusnya retroverni PE dilakukan dengan memakai kateter Teflon halus. Kadang-kadang diperlukan bantuan kanula logam untuk membimbing kateter masuk kedalam rongga uterus.
11. Pemantauan fase luteal
Kebanyakan tim konsepsi buatan memberikan suntikan atau    progesterone dalam fase luteal. Tidak cukup bukti untuk mendukung pengobatan ini, karena beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pengeluaran progesterone akan berlangsung normal setelah dilakukan aspirasi ovum. Namun ada juga yang melaporkan terjadinya fase luteal pendek setelah dilakukan protocol superovulasi
12. Diagnosis kehamilan
Kalau terjadi kehamilan, uji Beta-hCG akan memberikan hasil yang positif .tingkat keberhasilan kehamilan berbeda-beda diantara berbagai tim konsepsi buatan. Pada umumnya sekitar 20% pasutri akan mengalami kehamilan setelah dilakukan PE. Walaupun demikian, keberhasilan lebih tergantung dari banyaknya oosit yang berhasil diaspirasi, dan banyaknya embrio yang dipindahkan.
13. Analisa sebab kegagalan
a.     Ovulasi premature atau ova gagal untuk dibuahi.
b.     Oosit belum matang atau tidak normal. Inseminasi dilakukan pada saat yang kurang tepat.
c.      Keadaan hormonal/kesehatan isteri kurang menguntungkan oosit.
d.     Parameter stimulasi mungkin tidak sebaik yang diharapkan.
e.     Embrio yang dipindahkan gagal untuk berimplantasi. Hal ini merupakan satu-satunya masalah terbesar yang dialami oleh semua program konsepsi buatan pada masa kini.
f.      Spermatozoa kurang baik kualitasnya.
g.     Perkembangan endometrium kurang baik atau tidak sinkron untuk terjadinya implantasi yang baik.
14. Perawatan
Kalau konsepsi buatan berhasil, pelayanan obstetriknya tidak jauh berbeda dengan konsepsi alamiah. Konsepsi buatan bukan merupakan indikasi untuk dilakukan amniosintesis atau tindakan-tindakan obstetric lainnya.
15. Pertimbangan Psikologik
Bagian terpenting dari program konsepsi buatan adalah konseling pasca konsepsi buatan yang gagal, karena kira-kira 80% pasutri akan mengalaminya. Konseling ini bertujuan untuk meringankan pasutri dari segala kekecewaan dan kesedihan karena kegagalan yang baru saja dialaminya .Reaksi kesedihan pasutri dapat disamakan dengan kesedihan setelah mengalami keguguran atau kematian anak yang sangat diinginkannya.

2.3 ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection)
ICSI merupakan salah satu TRB yangdapat mengatasi masalah infertilitas pria seperti jumlah atau kemampuan motilitas sperma yang rendah vas deferens yang rusak serta pria yang pernah melakukan vasektom.
Prosedur pengambilan ovum wanita pada ICSI sama dengan prosedur lainnya. Namun tidak seperti metode lain yang membiarkan sperma menembus dinding ovum dengan tenaga sendiri. Pada ICSI spermadisuntikan kedalam sitoplasma ovum. Embrio yang dihasilkan kemudian dimasukan kedalam uterus wanita.
Karena metode ICSI ini memungkinkan suatu sperma abnormal untuk membuahi ovum terdapat kekhawatiran bahwa anak yang dihasilkan melalui metode icsi ini memiliki kesehatan atau perkembangan terganggu seperti BBLR, abnormalitas kromosom Y , dan resiko keterbelakangan mental.

2.4 KELEMAHAN DAN KEUNTUNGAN  INSEMINASI BUATAN
Adapun kelemahan dari inseminasi buatan ini adalah sebagai berikut :
a.            Dalam pembuahan normal, antara 50.000-100.000 sel sperma, berlomba membuahi 1 sel telur. Dalam pembuahan normal, berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin, dimana sel yang paling kuat dan sehat  adalah yang menang. Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium. Jadi bukan dengan sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas labolatorium dapat memisahkan mana sel sperma yang kelihatannya sehat dan tidak sehat. Akan tetapi, kerusakan genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Dengan cara itu, resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat, menjadi cukup besar.
b.            Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara genetik tidak sehat, para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan yang menentukan. Kesalahan pada saat injeksi sperma, merupakan salah satu faktor kerusakan genetika. Secara alamiah, sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama akrosom berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur. Dalam proses pembuahan secara alamiah, hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur. Sementara dalam proses inseminasi buatan, dengan  injeksi sperma, enzim akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam sel telur. Selama enzim akrosom belum terurai, maka pembuahan akan  terhambat. Selain itu prosedur injeksi sperma memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur, yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom.
c.    Keberhasilan masih belum mencapai 100 %, Di Rumah Sakit Harapan Kita, tingkat keberhasilannya 50 %, sedangkan di RSCM    sebesar 30-40 %
d.    Memerlukan waktu yang cukup lama
e.    Biaya mahal, berkisar antara 34-60 juta
f.     Tidak bisa sekali melakukan proses langsung jadi, tetapi besar kemungkinan untuk di lakukan pengulangan, Adapun keuntungan dan kerugiannya adalah Memberikan peluang kehamilan kepada pasangan suami istri yang sebelumnya mengalami infertilitas.
















BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Teknologi Reproduksi Berbantu adalah penanganan terhadap gamet (ovum, sperma), atau embrio (konsepsi) sebagai upaya untuk mendapatkan kehamilan diluar cara alami
Intra uterine insemination (IUI) adalah cara memasukkan sel-sel sperma yang telah di preparasi (pencucian sperma supaya lebih aktif) langsung kedalam rongga rahim dengan suatu kateter pada saat menjelang ovulasi (masa subur).
Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer ke rahim istri.
IVF juga merupakan salah satu TRB yang fertilisasinya terjadinya diluar tubuh wanita.
ICSI merupakan salah satu TRB yangdapat mengatasi masalah infertilitas pria seperti jumlah atau kemampuan motilitas sperma yang rendah vas deferens yang rusak serta pria yang pernah melakukan vasektom.







DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah, Jusuf. 1999.Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan.Jakarta:EGC
http//:scribd-upload 2 15072014
www. Blogspoot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar